MAKASSAR — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Makassar tidak sekadar menjadi momentum seremonial. Di balik upacara yang berlangsung di Lapangan Upacara M. Jusuf Makodam XIV/Hasanuddin, Senin (5/10/2026), terselip pesan strategis mengenai arah penguatan TNI sekaligus tanggung jawab besar yang menyertainya.
Komandan Kodaeral VI (Dankodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M., yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, membacakan amanat Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, S.E., M.Si. Amanat tersebut menempatkan kepercayaan rakyat sebagai salah satu modal utama institusi pertahanan negara.
Mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, peringatan tahun ini menegaskan kembali hubungan antara kekuatan pertahanan dan dukungan masyarakat. Kepercayaan publik tidak dipandang semata sebagai penilaian terhadap institusi, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap prajurit.
“Kepercayaan tersebut adalah kehormatan sekaligus amanah yang wajib kita jaga,” ujar Dankodaeral VI saat membacakan amanat Panglima TNI.
Penguatan TNI kini berjalan bersamaan dengan agenda modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan serta peningkatan kesejahteraan prajurit dan ASN TNI.
Namun, modernisasi pertahanan bukan sekadar persoalan menambah atau memperbarui alutsista. Semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tuntutan terhadap sumber daya manusia yang mengoperasikannya.
Karena itu, Panglima TNI menekankan bahwa modernisasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi, kesiapan, dan profesionalisme prajurit.
Pesannya jelas: alutsista yang semakin canggih tidak akan memberikan daya tangkal maksimal tanpa prajurit yang kompeten dan berintegritas.
Di titik inilah modernisasi pertahanan memiliki dimensi yang lebih luas. Negara tidak hanya dituntut menyediakan perangkat pertahanan, tetapi juga memastikan setiap sumber daya tersebut digunakan secara optimal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ancaman Tidak Lagi Hanya Datang dari Medan Tempur, Amanat Panglima TNI juga menyoroti perubahan lingkungan strategis yang berlangsung cepat.
Ketidakpastian global menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi. Namun, ancaman terhadap pertahanan negara saat ini juga berkembang ke ruang yang lebih kompleks, termasuk ruang informasi dan kognitif.
Perubahan tersebut membuat tugas TNI tidak lagi dapat dipahami hanya dalam konteks menghadapi ancaman bersenjata. Persepsi publik, arus informasi, dan kemampuan memengaruhi kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian dari dinamika keamanan nasional.
Dalam kondisi tersebut, integritas menjadi semakin penting. Pengelolaan sumber daya negara yang dipercayakan kepada TNI harus dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab.
Dengan kata lain, kekuatan pertahanan tidak hanya diukur dari kemampuan persenjataan, tetapi juga dari kualitas institusi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya.
Penekanan terhadap kepercayaan rakyat memiliki arti strategis. TNI merupakan institusi yang memperoleh mandat negara sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi.
Ketika kepercayaan publik tinggi, dukungan masyarakat terhadap tugas-tugas pertahanan menjadi lebih kuat. Sebaliknya, ketika kepercayaan melemah, kemampuan institusi untuk menjalankan mandatnya dapat ikut terdampak.
Karena itu, tema HUT ke-81 TNI tentang kekuatan bersama rakyat tidak berhenti pada slogan. Tema tersebut membawa konsekuensi bahwa kekuatan militer harus tetap berjalan bersama profesionalisme, integritas, dan kedekatan dengan masyarakat.
Peringatan HUT ke-81 TNI di Makassar juga memiliki arti tersendiri. Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah penting dalam konfigurasi pertahanan Indonesia di kawasan timur.
Kehadiran sejumlah pejabat tinggi militer dan kepolisian dalam upacara tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menghadapi dinamika keamanan yang semakin kompleks.
Turut hadir Pangkodau II, Kasdam XIV/Hasanuddin, Danlanud Sultan Hasanuddin, Wadan Kodaeral VI, Wakapolda Sulsel, serta para perwira tinggi dan perwira menengah wilayah Makassar. Hadir pula pengurus Dharma Pertiwi Daerah G dan sejumlah undangan lainnya.
Kehadiran unsur-unsur tersebut memperlihatkan bahwa pertahanan nasional tidak berdiri sendiri. TNI, Polri, pemerintah, dan masyarakat memiliki ruang masing-masing dalam menjaga stabilitas nasional.
HUT ke-81 TNI pada akhirnya bukan hanya momentum untuk merayakan perjalanan panjang institusi pertahanan negara. Amanat Panglima TNI justru membawa pesan evaluatif: semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Modernisasi alutsista harus dibarengi peningkatan kualitas prajurit. Kekuatan militer harus berjalan bersama integritas. Dan tingginya kepercayaan masyarakat harus dijawab dengan pengabdian yang konsisten.
Di tengah perubahan ancaman yang semakin kompleks, tantangan terbesar TNI bukan hanya bagaimana menjadi lebih kuat secara militer, tetapi juga bagaimana memastikan kekuatan tersebut tetap digunakan secara profesional, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan bangsa.
Sebab pada akhirnya, kekuatan TNI tidak hanya ditentukan oleh seberapa modern persenjataannya, tetapi juga oleh seberapa kuat hubungan kepercayaan antara prajurit dan rakyat yang dilindunginya. (Diah-oborbangsa)

