BARRU – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Barru tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi latar bagi persoalan lain yang tak kalah mendesak: sulitnya warga memperoleh air bersih di tengah kondisi kekeringan.
Di tengah situasi tersebut, Kepala Lingkungan Lasinri, Haji Asri, memilih turun langsung membantu masyarakat. Dengan memanfaatkan mobil pikap milik Kelurahan Coppo yang dilengkapi tangki berkapasitas 1.200 liter, ia mendistribusikan air bersih kepada warga BTN Puja dan sekitarnya yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aksi tersebut menjadi gambaran nyata tentang pentingnya kehadiran aparat lingkungan ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Namun, di balik kepedulian itu, terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih luas, yakni pemenuhan kebutuhan dasar warga ketika pasokan air bersih tidak dapat diakses dengan mudah.
Bagi warga yang terdampak kekeringan, air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan pokok untuk minum, memasak, mandi, dan menjaga kebersihan lingkungan. Ketika sumber air terbatas, aktivitas rumah tangga pun ikut terganggu.
Warga BTN Puja dan sekitarnya selama ini mengandalkan distribusi air menggunakan mobil tangki PDAM. Akan tetapi, menurut keluhan warga, bantuan pasokan air tersebut belakangan tidak kunjung tiba sesuai harapan.
Bang Jay, salah seorang warga yang merasakan dampak kekeringan, menyampaikan apresiasinya atas upaya Haji Asri dalam membantu masyarakat.
Ia menduga tingginya permintaan pelanggan menjadi salah satu kemungkinan penyebab keterlambatan distribusi air. Meski demikian, penyebab pasti keterlambatan tersebut masih memerlukan penjelasan dari pihak terkait.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketika kebutuhan air meningkat, kecepatan dan pemerataan distribusi menjadi faktor penting. Masyarakat yang mengalami kesulitan membutuhkan kepastian mengenai kapan pasokan air akan tiba, bukan sekadar berharap pada bantuan yang belum dapat dipastikan waktunya.
Melihat kondisi warga yang membutuhkan air bersih, Haji Asri mengambil inisiatif untuk membantu pendistribusian air secara langsung.
Dengan menggunakan mobil pikap Kelurahan Coppo yang dilengkapi tangki berkapasitas 1.200 liter, ia berkeliling menyalurkan air kepada warga terdampak. Upaya ini dilakukan meskipun kondisi lingkungan sedang diselimuti kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Ketersediaan kendaraan operasional dari pihak kelurahan turut mendukung proses penyaluran air. Fasilitas tersebut memungkinkan distribusi dilakukan secara langsung ke permukiman sehingga warga tidak harus sepenuhnya menunggu kedatangan armada tangki PDAM.
Namun, kapasitas tangki 1.200 liter tentu memiliki keterbatasan. Jumlah rumah yang dapat dilayani bergantung pada kebutuhan setiap keluarga, jumlah warga terdampak, serta ketersediaan pasokan air untuk pengisian ulang.
Karena itu, inisiatif seperti yang dilakukan Haji Asri dapat menjadi bantuan penting dalam kondisi mendesak, tetapi keberlanjutan distribusi tetap membutuhkan dukungan sistem pelayanan air bersih yang terencana.
Tindakan Haji Asri mendapat apresiasi dari masyarakat. Kehadirannya di tengah kesulitan warga menunjukkan bahwa peran pemimpin lingkungan tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga kemampuan merespons kebutuhan masyarakat secara langsung.
Dalam situasi ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi secara optimal, respons cepat dari aparat setempat dapat membantu mengurangi beban warga. Terlebih, air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda tanpa menimbulkan dampak terhadap kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, persoalan ini tidak semestinya berhenti pada kisah kepedulian seorang individu. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat mengenai pentingnya koordinasi antara pemerintah kelurahan, pengelola layanan air bersih, dan pihak terkait dalam menghadapi kekeringan.
Distribusi air perlu mempertimbangkan tingkat kebutuhan warga, wilayah yang paling terdampak, serta kepastian jadwal penyaluran. Informasi yang terbuka mengenai keterbatasan pasokan dan langkah penanganan juga diperlukan agar masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Kekeringan yang menyebabkan kesulitan memperoleh air bersih membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat sementara. Bantuan melalui mobil tangki dapat menjadi langkah cepat, tetapi upaya jangka panjang juga perlu dipertimbangkan sesuai kondisi wilayah.
Pemetaan daerah rawan kekeringan, pendataan keluarga yang membutuhkan bantuan, penyediaan tempat penampungan air, serta koordinasi distribusi antarlembaga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan.
Di sisi lain, kondisi kabut asap yang disebut menyelimuti wilayah Barru juga perlu mendapat perhatian tersendiri. Penyebab, tingkat paparan, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat perlu dipastikan melalui informasi dari instansi berwenang.
Dengan demikian, penanganan kekeringan dan gangguan kualitas udara dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan, bukan semata-mata melalui perkiraan.
Kisah Haji Asri memberikan gambaran bahwa kepedulian sosial dapat hadir melalui tindakan sederhana yang menjawab kebutuhan mendesak masyarakat. Namun, pelayanan dasar yang berkelanjutan tidak seharusnya bergantung hanya pada inisiatif perorangan.
Di tengah kabut asap dan kekeringan, air yang disalurkan kepada warga bukan hanya bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan publik diukur dari kemampuannya menjangkau masyarakat ketika mereka paling membutuhkan.
Sebab, kepedulian seorang pemimpin dapat meringankan beban warga hari ini, tetapi sistem pelayanan yang tanggap dan berkelanjutanlah yang dibutuhkan agar persoalan serupa tidak terus berulang.(ABM–oborbangsa)

