PADANG PARIAMAN — Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan, mencuri perhatian publik. Bukan karena pidato panjang atau seremoni resmi, tapi lewat sebuah kaus bergambar One Piece, komik dan animasi Jepang legendaris tentang bajak laut pemburu keadilan.
Momen itu terjadi Kamis, 8 Agustus, di Sumatera Barat, saat ia berdiri di tengah massa buruh PT Bumi Sarimas Indonesia (PT BSI) yang sudah empat bulan tak menerima gaji.
Di tengah terik matahari, Gerungan bukan hanya membawa kata-kata dukungan, tapi juga simbol: kaus bergambar kelompok bajak laut Topi Jerami, dipimpin karakter pemberontak bernama Monkey D. Luffy.
“Ini bukan sekadar gaya. Ini pesan bahwa pemerintah berdiri bersama buruh melawan ketidakadilan,” tegasnya, menyebut aksi itu juga sebagai cerminan komitmen Presiden Prabowo Subianto pada solidaritas rakyat.

Aksi “Menteri One Piece” ini menyatu dengan gelombang simbolis yang tengah memanas di ruang publik.
Di banyak daerah, bendera bajak laut Topi Jerami latar hitam, tengkorak tersenyum, dan dua tulang bersilang—mulai berkibar di rumah, motor, bahkan kantor kecil. Sebuah bentuk perlawanan kreatif terhadap dugaan korupsi dan arogansi kekuasaan.
Publik membacanya sebagai tanda; bajak laut fiksi ini telah menjadi metafora rakyat yang siap “merampas kembali” keadilan mereka.
Bahkan Presiden, lewat Menteri Sekretaris Negara, menilai tren itu sebagai ekspresi bebas yang sah, meski tetap mengingatkan agar Merah Putih tak kehilangan kehormatannya.
Pertanyaannya kini, apakah kaus One Piece di tubuh seorang wakil menteri hanyalah gimmick politik, atau benar-benar tanda perang terhadap para ‘Bajak Laut’ di dunia nyata yang menahan hak buruh dan mengeruk kekayaan rakyat?
Laporan Redaksi Oborjkt

