Bukumba- Pagi baru saja merekah di Kecamatan Herlang, kabupaten bulukumba provinsi Sulawesi selatan. Embun masih menggantung di ujung daun, udara terasa sejuk, dan cahaya matahari perlahan menembus sela pepohonan yang mengitari Balla Lompoa Ditanuntung, rumah adat yang menjadi saksi banyak peristiwa penting masyarakat setempat. Dari berbagai penjuru kampung, warga mulai berdatangan—ibu-ibu bersarung berjalan berkelompok, para tokoh adat berbusana rapi, pemuda sibuk menata kursi, sementara lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan membuka hari.
Hari itu bukan pagi biasa.
Di halaman rumah adat yang sarat nilai sejarah itu, peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW digelar. Namun lebih dari sekadar agenda keagamaan, kegiatan ini menjelma menjadi ruang pertemuan besar—tempat adat, pemerintahan, dan masyarakat bertemu dalam satu ikatan silaturahmi.

Sejak matahari naik perlahan, senyum dan salam bersahutan.
Tak ada sekat antara bangsawan adat, pejabat, maupun warga biasa. Semua duduk bersisian, bercengkerama, larut dalam suasana kekeluargaan. Di sinilah Herlang menunjukkan wajah aslinya—religius, berbudaya, dan guyub.
Hadir sebagai tamu kehormatan, Wakil Bupati Bulukumba Andi Edy Manaf turut memberikan dukungan langsung pada kegiatan tersebut. Namun kehadirannya terasa lebih dari sekadar representasi pemerintah. Ia disambut hangat bukan hanya sebagai pejabat daerah, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar. Sapaan akrab dan perbincangan penuh kehangatan memperlihatkan bahwa hubungan yang terjalin bukan hubungan formal semata, tetapi silaturahmi yang tumbuh dari kedekatan emosional dan sejarah kebersamaan.
Di barisan tokoh adat tampak pula Haji Andi Rusdianto, Sekretaris Jenderal Lembaga Adat, bersama Karaeng Lange Andi Mappaita, serta H. Andi Abd Azis Madu, Ketua sekaligus pendiri Grup Keluarga Petta Pento Petta Terru. Kehadiran mereka menegaskan kuatnya akar tradisi dalam setiap denyut kegiatan masyarakat Herlang.
Di tengah keramaian yang kian memadat sejak pagi, perhatian masyarakat kemudian tertuju pada satu sosok yang melangkah tenang menyapa warga dari satu kelompok ke kelompok lain.
Kehadiran Permaisuri Raja Gowa XXXVIII, Andi Hikmawati Andi Kumala Idjo, seakan membawa cahaya tersendiri bagi perhelatan itu. Bukan semata karena gelar kebesaran yang melekat padanya, melainkan karena kelembutan tutur dan keteduhan sikap yang memancarkan wibawa alami. Ia menyalami para orang tua, berbincang hangat dengan ibu-ibu majelis taklim, serta merangkul keluarga besar adat tanpa jarak. Dari tangannya, benang-benang persaudaraan kembali dirajut; yang lama dipererat, yang jauh didekatkan. Dalam suasana religius Isra’ Mi’raj, sosoknya menjadi perekat silaturahmi yang menghadirkan rasa hormat mendalam di antara sesama.
Momentum kebersamaan itu semakin terasa istimewa ketika tiga kakaraengan besar hadir dalam satu ruang: Petta Lamandong, Petta Pento Petta Terru, dan Karaeng Solong Dg Patombong. Tiga nama yang bukan sekadar gelar adat, melainkan representasi jejak sejarah panjang kepemimpinan lokal. Pertemuan mereka di Balla Lompoa Ditanuntung menjadi simbol kuat bahwa adat masih hidup dan berfungsi sebagai perekat sosial masyarakat.
Bagi warga, pemandangan ini menghadirkan rasa haru tersendiri.
Generasi tua berbagi kisah masa lalu, generasi muda menyimak dengan bangga. Sejarah seakan turun dari buku-buku cerita dan berdiri nyata di hadapan mereka.
Dukungan pemerintah kecamatan pun tampak nyata. Camat Herlang, Andi Nurfidya Samad, dengan gaya kepemimpinan yang komunikatif dan merangkul, berhasil menghadirkan partisipasi luas masyarakat. Majelis taklim, tokoh agama, pemuda, hingga warga dari berbagai desa memadati lokasi kegiatan. Semua bergerak bersama—menyiapkan konsumsi, menata tempat, menyambut tamu—tanpa komando panjang.
Gotong royong terasa alami, seakan kegiatan ini bukan milik panitia, melainkan milik seluruh Herlang.
Di atas panggung, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, disusul tausiah yang mengingatkan makna Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan spiritual Rasulullah SAW—tentang iman, keteguhan, dan akhlak. Namun di luar rangkaian acara resmi, maknanya terasa lebih luas. Ia menjadi perjalanan sosial: mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan identitas budaya.
Di Herlang, agama dan adat tidak pernah dipertentangkan.
Keduanya berjalan berdampingan. Adat menjaga akar, agama memberi arah.
Menjelang siang, percakapan masih terus berlangsung.
Anak-anak berlarian di halaman rumah adat, orang tua duduk bertukar cerita, sementara salam perpisahan terasa berat diucapkan. Ada kehangatan yang sulit dilepaskan—karena pertemuan seperti ini bukan sekadar acara, melainkan ruang merawat kebersamaan.
Dari Balla Lompoa Ditanuntung, Herlang mengirim pesan sederhana namun mendalam: bahwa masyarakat yang besar adalah masyarakat yang tidak melupakan akar budayanya. Ketika adat dihormati, agama dijunjung, dan pemerintah hadir di tengah rakyat, harmoni bukan sekadar slogan—ia nyata terasa.
Dan pagi itu, Herlang membuktikan, tradisi bukan cerita masa lalu.
Ia hidup.
Ia bernapas.
Ia tumbuh bersama masyarakatnya.
(A Mappasomba-oborbangsa)

