MAKASSAR — Bentrokan antara kelompok pemuda Lonner (Lorong Neraka) dan Jor-Joran kembali terjadi di Jalan Abu Bakar Lambogo, Lorong 1, Kelurahan Bara-Baraya Selatan, Kecamatan Makassar. Polisi menemukan sejumlah senjata dan benda yang diduga digunakan dalam bentrokan.
Rangkaian kejadian berlangsung dalam tiga hari, sejak Jumat (16/10/2026) hingga Senin (19/10/2026). Polda Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar menangani situasi tersebut pada Senin malam sekitar pukul 22.00 Wita. Penanganan dipimpin Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel Kombes Pol. Feby D.P. Hutagalung bersama personel gabungan.
Bentrokan pertama terjadi pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 06.10 Wita. Kedua kelompok dilaporkan saling menyerang menggunakan batu, balok kayu, botol, busur, dan petasan. Setelah kejadian itu, seorang warga berinisial M. dilaporkan meninggal dunia.
Bentrokan kembali terjadi pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 22.00 Wita hingga tengah malam. Polisi kemudian membubarkan massa dan melakukan pengamanan di lokasi.
Pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 06.00 Wita, bentrokan kembali pecah meski polisi telah berjaga. Massa dibubarkan sekitar pukul 07.00 Wita.
Polisi masih menyelidiki pemicu bentrokan, pihak-pihak yang terlibat, serta hubungan kematian M. dengan rangkaian kejadian tersebut.
Setelah bentrokan kembali terjadi, Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar mengerahkan personel gabungan untuk mengamankan lokasi. Tim yang dipimpin Kombes Pol. Feby D.P. Hutagalung juga menemui tokoh pemuda dan tokoh masyarakat dari kedua kelompok.
Dari kelompok Lonner, polisi meminta keterangan I (31), A.M. (28), TG (24), dan TS (22). Dari kelompok Jor-Joran, polisi meminta keterangan A.R. (55), S (29), dan R.P.A. (23).
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol. Didik Supranoto mengatakan, penanganan meliputi pendatanganan lokasi, komunikasi dengan tokoh masyarakat dan pemuda, serta pemeriksaan barang bukti.
Dari kelompok Lonner, petugas menemukan tiga ketapel, 10 anak panah, empat paku berujung pipih, empat komponen velg sepeda motor yang diikat pada bambu, satu pisau, satu senjata mainan berbentuk revolver, satu botol berisi cairan spiritus berwarna ungu, satu alat pelontar rakitan, serta 10 tameng berbahan tripleks dan seng.
Dari kelompok Jor-Joran, polisi menemukan lima botol yang diduga bom molotov, satu petasan bekas pakai, satu gulungan kain yang diduga digunakan sebagai sumbu, serta delapan tameng berbahan tripleks dan seng.
Kepolisian masih memeriksa keterkaitan barang-barang tersebut dengan bentrokan.
Penyidik melakukan penyelidikan dan profiling untuk mengetahui latar belakang konflik. Polisi menyatakan penyebab bentrokan dan hubungan kematian M. dengan peristiwa tersebut akan ditentukan berdasarkan bukti serta hasil pemeriksaan.
Polda Sulsel mengimbau masyarakat dan tokoh setempat bekerja sama menjaga keamanan serta mencegah bentrokan kembali terjadi. (Diah-indra-oborbangsa)

