SUNGGUMINASA, OBOR BANGSA – Keluarga MSH (19), remaja yang kini diamankan aparat Polres Gowa terkait dugaan insiden dengan anak di bawah umur, akhirnya angkat bicara.
Dengan nada lirih dan mata sembap, kedua orang tua MSH membantah keras tuduhan pelecehan seksual terhadap anak dan menyebut putranya menjadi korban framing media dan pembelokan fakta yang sangat merugikan.
Saat ditemui di kawasan Sungguminasa, Senin (21/7/2025), keluarga menyampaikan kronologi versi mereka yang jauh berbeda dari pemberitaan yang berkembang di publik.
“Anak kami itu polos. Dia sendiri bilang tidak pernah berniat mencederai siapa pun. Yang terjadi, dia hanya diminta menyapu rambut anak itu, bahkan dilakukan karena dipaksa orang lain,” ucap sang ayah dengan nada tenang namun menahan emosi.
Kronologi Versi Keluarga: Bukan Pelecehan, Bukan di Masjid
Keluarga MSH menyampaikan bahwa peristiwa itu terjadi bukan di gudang atau masjid sebagaimana diberitakan, melainkan di depan tempat rental PlayStation sekitar pukul 17.00 WITA (17/05/25).
“MSH bilang tangannya dipegang dan dipaksa untuk menyapu rambut anak perempuan itu. Saat anak itu menangis dan lari, MSH justru bingung dan kaget,” terang ibunya yang terlihat sangat terpukul.
Ia juga mengungkapkan bahwa keluarga korban sempat datang ke rumah mereka pada malam kejadian, dan saat itu belum ada pernyataan mengarah pada tindakan pelecehan.
“Waktu mereka datang, yang mereka bilang cuma rambut anak mereka dibelai. Kami bahkan sudah berusaha menyelesaikan secara kekeluargaan. Tapi entah kenapa akhirnya dilaporkan ke polisi,” imbuhnya.
Trauma Berat dan Tekanan Mental: MSH Dilarikan ke Rumah Sakit
Tak hanya tekanan sosial akibat pemberitaan, MSH juga mengalami trauma psikis yang berat. Sang ibu mengaku anaknya saat ini sempat menjalani terapi kejiwaan akibat tekanan mental dan perlakuan fisik yang diterimanya.
“Dia tidak hanya trauma karena berita dan penghakiman netizen, tapi juga karena sempat mengalami perlakuan kasar dari orang tua korban dan security. Fisik dan jiwanya sangat terpukul,” ucap ibunya, nyaris tak mampu menahan tangis.
MSH dijemput polisi pada dini hari sekitar pukul 02.00 WITA oleh Tim Resmob Polres Gowa (17/05/25). Keluarga menyatakan tidak ada pendampingan psikologis saat proses penangkapan.
Harapan Akan Keadilan dan Klarifikasi Tuduhan
Dalam pernyataannya, keluarga menegaskan bahwa tuduhan sebagai pelaku pedofil maupun berbagai fitnah lain yang menyebar di media sosial, termasuk hoaks terkait “memperkosa ayam tetangga,” telah menyakiti keluarga secara mendalam.

“Kami mohon keadilan. Jangan menghakimi anak kami sebelum semua jelas. Dia masih remaja, mentalnya belum kuat. Tolong hargai proses hukum,” tutur sang ayah.
Keluarga menyatakan percaya kepada Polres Gowa dan menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk menelusuri kebenaran dari kasus ini.
Mereka berharap penyelidikan bisa berjalan jujur, adil, dan tanpa tekanan publik yang bersifat menghukum sebelum fakta terungkap.

“Kebenaran pasti akan muncul. Tapi jangan dulu vonis anak kami. Jangan hancurkan masa depannya hanya karena persepsi yang belum tentu benar,” ucap sang ibu sambil mengusap air mata.
Laporan: Pen
Editor: oborBangsa


