Matahari bergulir pelan di ufuk barat, menaburkan semburat jingga di atas jalan-jalan kota yang mulai disesaki oleh kendaraan yang tergesa pulang.
Di simpang-simpang jalan, pemandangan baru mekar seperti bunga musiman.
Tenda-tenda sederhana dengan kain bertuliskan “Gratis Takjil” berdiri di sudut-sudut strategis.

Mereka hadir bak oase, menawarkan paket kecil berisi kue basah dan air mineral.
Menariknya, yang kini membagikan bukan sekadar komunitas muda-mudi penuh semangat atau organisasi sosial, tapi juga pria-pria berseragam cokelat yang biasanya lebih lekat dengan peluit, borgol, dan berkas-berkas laporan.
Institusi yang diamanahkan menjaga ketertiban umum, menegakkan hukum, dan melindungi masyarakat mendadak beralih peran.
Mereka bukan lagi penegak hukum, melainkan pelopor pembagi takjil.
Ironisnya, seperti awan mendung yang menggelayut di langit petang, sindiran halus mulai berembus di antara masyarakat.
“Apakah polisi kini cabang baru dari Dinas Sosial?” celetuk seseorang.
“Atau mungkin hukum kini cukup ditegakkan lewat sekotak gorengan dan sebotol air mineral?” tambah yang lain.
Tentu, tak ada yang salah dengan berbagi. Kepedulian sosial adalah nilai luhur yang harus dijunjung tinggi, apalagi di bulan suci Ramadhan.
Namun, alih-alih menjadi kekuatan pelindung hukum, mereka justru lebih sibuk berbaur dengan kemacetan, membagikan kue, seakan-akan masalah sosial adalah mandat utama mereka.
Padahal, di sudut-sudut kota yang sama, ada kasus pencurian yang belum terungkap, pelaku kekerasan yang masih bebas melenggang, dan sederet persoalan hukum yang menumpuk di atas meja penyidik.
Masyarakat rindu pada polisi yang tangguh dan berwibawa.
Rindu pada supremasi hukum yang dijunjung tinggi tanpa pandang bulu.
Bukan sekadar rindu akan kehadiran mereka di jalan dengan senyum ramah dan sekotak takjil, tetapi rindu pada ketegasan mereka di ruang publik, di balik operasi penangkapan, dan dalam menyelesaikan tumpukan kasus yang tak kunjung tuntas.
Hukum bukanlah sekadar dokumen berdebu di rak-rak institusi. Hukum adalah lentera bagi mereka yang terpinggirkan, penegak keadilan bagi yang teraniaya.
Namun apa daya, lentera itu meredup sementara polisi lebih sibuk berperan sebagai relawan dadakan.
Ketika azan maghrib berkumandang, mungkin ada baiknya mereka merenung sejenak di bawah langit yang mulai gelap.
Bukan tentang berapa banyak takjil yang telah dibagikan, tetapi tentang berapa banyak ketidakadilan yang belum mereka tuntaskan.
Sebab, di ujung perjalanan ini, yang paling dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah sekotak kudapan manis, melainkan rasa aman dan keadilan yang hakiki.
Bukankah itu tugas dan fungsi polisi yang sesungguhnya?
Membuat hukum tetap hidup dan berdenyut di setiap sudut negeri, bukan hanya hadir dalam kemasan plastik bening berisi tiga potong kue.
Penulis: Arfandi Palallo pegiat Literasi

