“Kemenangan adalah momen euforia yang memabukkan. Ia menyala bagai kembang api yang meledak di angkasa, membawa sukacita dan tepuk tangan yang menggema ke segala penjuru” – Ir Suwandi Mahendra
KITA, sang pemenang, berdiri di puncak itu, menyaksikan bagaimana perjalanan panjang akhirnya berbuah manis.
Namun, kemenangan sering kali membawa cermin baru—cermin yang memantulkan wajah berbeda dari KITA.

Dalam gemuruh kemenangan, KITA berubah.
Dari kata yang mulanya sarat akan makna kebersamaan, ia perlahan menjelma menjadi label yang penuh keAKUan.
Kita mulai memisahkan diri, menciptakan sekat tak kasat mata antara KITA dan DIA.
Siapakah DIA? DIA adalah mereka yang berbeda pilihan, yang menempuh jalan lain di hari Pemilukada.
DIA adalah kelompok kecil yang barangkali tersisih dalam gelombang besar suara mayoritas, atau mereka yang kalah di bawah bendera partai lain.
Fenomena ini, sayangnya, bukan hal baru. Pemilukada yang digelar di berbagai penjuru negeri selalu menyisakan kisah yang sama—sebuah kemenangan yang berpotensi memecah alih-alih merangkul.
KITA berdiri di atas podium, namun dalam tegak itu ada garis tegas yang memisahkan KITA dari DIA.
Padahal kemenangan dalam demokrasi sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju kemajuan yang sesungguhnya.
Kemajuan tidak pernah lahir dari satu suara, satu ide, atau satu kelompok saja.
Sejarah membuktikan bahwa setiap peradaban yang maju dibangun atas dasar keberagaman pikiran dan kolaborasi banyak pihak.
Namun, sering kali KITA lupa akan hal itu. Dalam hiruk-pikuk kemenangan, ada EGO kelompok yang perlahan merayap—mengunci telinga dari masukan pihak lain, dan membuat KITA merasa tahu segalanya.
Para ahli sosial menyebut fenomena ini sebagai ingroup bias, sebuah kecenderungan manusia untuk lebih memihak kelompoknya sendiri dan meremehkan kelompok lain.
KITA merasa superior, merasa paling benar, dan enggan menerima bahwa DIA, yang kalah dalam kontestasi, juga memiliki gagasan yang bisa memperkaya langkah ke depan.
EGO kelompok inilah yang sering kali menjadi penghalang terbesar bagi kemajuan yang hakiki.
Ironisnya, demokrasi dirancang bukan untuk menciptakan sekat, melainkan untuk membuka ruang dialog dan kolaborasi.
Namun, pada kenyataannya, kemenangan politik sering kali justru memupuk rivalitas yang berlarut-larut. KITA sibuk menjaga dominasi, sementara DIA perlahan terpinggirkan, kehilangan kesempatan untuk berkontribusi.
Padahal kemajuan adalah kapal besar yang hanya bisa berlayar jika semua orang di dalamnya bekerja sama—tanpa peduli siapa yang memegang kemudi di hari kemenangan.
Dalam refleksi ini, kita perlu kembali bertanya: Apakah kemenangan yang kita raih benar-benar membawa perubahan, atau hanya melanggengkan siklus EGO kelompok yang sama?
Apakah KITA ingin dikenang sebagai pihak yang menang dengan merangkul semua orang, atau sebagai kelompok yang memenangi kontestasi dengan menciptakan tembok tinggi di sekelilingnya?
Jalan menuju kemajuan tidaklah mudah. Ia adalah jalan terjal yang dipenuhi tantangan, dan hanya bisa dilalui dengan keberanian untuk melepas EGO dan membuka ruang bagi pihak lain.
Kolaborasi mungkin bukan hal yang mudah, tetapi ia adalah kunci dari setiap pencapaian besar yang bertahan lama.
Refleksi ini seharusnya menggema di setiap pelosok negeri, dari kota besar hingga desa kecil, setiap kali Pemilukada usai digelar.
Karena kemenangan sejati bukan sekadar soal perolehan suara, tetapi tentang seberapa banyak hati yang mampu dirangkul, dan seberapa jauh langkah yang bisa ditempuh bersama.
KITA dan DIA mungkin berangkat dari pilihan yang berbeda, tetapi tujuan kita seharusnya sama: menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.
Sebab pada akhirnya, kemajuan bukanlah milik KITA saja, melainkan milik seluruh rakyat yang menaruh harap pada demokrasi.
Jika KITA mampu merangkul DIA, dan Dia bersedia bergandengan tangan dengan KITA, maka jalan terjal ini akan terasa lebih ringan, dan kemajuan yang kita impikan tidak lagi menjadi sekadar angan.
Demokrasi yang sesungguhnya adalah tentang KITA dan DIA yang bersatu, demi masa depan yang lebih baik bagi negeri ini.
Ditulis berdasarkan hasil diskusi bersama Forum Welthebes (Refleksi Pemilukada Indonesia).
Ditulis Arfandy Pallallo (Pegiat Literasi Gowa)

