TAKALAR – Pagi itu, suasana Desa Pattiro Deceng tampak berbeda. Warga berbondong-bondong membawa ternaknya ke lokasi kegiatan, menyambut kedatangan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Senin,(8/9)

Mereka bukan sekadar belajar, tetapi hadir membawa misi perubahan lewat Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) memperkenalkan program SATOA, salah satu inisiatif yang menggabungkan teknologi modern dengan kebutuhan peternak desa.
Mulai dari manajemen kandang berbasis K3, pemanfaatan limbah pertanian, pencatatan kesehatan hewan secara digital, hingga penerapan Internet of Things (IoT) untuk memantau ternak.

Salah satu kegiatan yang paling ditunggu masyarakat adalah vaksinasi ternak. Bagi warga, vaksinasi ini bukan sekadar suntikan obat, melainkan simbol harapan bahwa kesehatan hewan mereka akan lebih terjamin.
Dengan pencatatan berbasis data, setiap hewan kini memiliki “rekam jejak kesehatan” yang bisa dipantau secara berkelanjutan.

“Dulu kami hanya mengandalkan pengalaman dan perkiraan. Sekarang, dengan bantuan adik-adik mahasiswa, kami jadi lebih paham cara merawat ternak dengan baik,” ujar seorang peternak setempat.

Lewat program ini, mahasiswa HIMAKAHA tidak hanya menjalankan kewajiban akademis, tetapi juga menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
Mereka belajar langsung dari lapangan, sekaligus berbagi ilmu agar Desa Pattiro Deceng bisa menjadi contoh desa dengan peternakan cerdas (smart farming) di masa depan.

Langkah kecil ini mungkin baru awal, namun bagi warga desa, kehadiran mahasiswa Unhas adalah tanda bahwa perubahan menuju peternakan yang sehat, produktif, dan modern bukan lagi mimpi jauh.
Laporan:
Rayhan – Public Relation PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas



