SUNGGUMINASA- Hutan pinus yang membentang di kawasan wisata Malino tidak hanya menyajikan panorama menawan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi besar. Getah pinus yang disadap dari batang pohon telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga setempat.
Getah pinus, yang dikenal sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, hingga perekat, memiliki nilai jual yang stabil. Di Malino, penyadapan dilakukan secara bergilir sehingga hutan tetap terjaga dan produktif dalam jangka panjang.
Menurut H Arif, salah seorang penyadap lokal, setiap pohon dapat menghasilkan getah hingga beberapa liter per tahun.
“Pendapatan kami terbantu dengan hasil getah ini. Selain menjual langsung, ada juga pengepul yang datang membeli dalam jumlah besar,” ujarnya.
Data dari Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan menyebutkan, produksi getah pinus di kawasan Malino terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Hal ini berdampak positif terhadap perekonomian desa sekitar, terutama bagi keluarga yang menggantungkan hidup pada hutan.
Selain memberi manfaat ekonomi, kegiatan penyadapan juga membuka lapangan kerja baru, mulai dari penyadap, pengepul, hingga pekerja transportasi.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, getah pinus dari Malino ibarat “emas cair” yang tidak hanya menopang ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga hutan tetap hidup bagi generasi mendatang. (Akbar-oborbangsa)


