BARRU – Pukul 05.00 WITA, ketika sebagian besar warga masih terlelap dalam dinginnya subuh, mesin truk tangki milik PDAM Barru sudah meraung di kawasan kompleks BTN, Rabu (7/10/2026).
Di balik kemudi truk yang catnya mulai memudar diterpa cuaca, seorang pengemudi bernama Bang Nas bersiap kembali menyusuri jalan. Bukan untuk mengangkut komoditas biasa, melainkan membawa sesuatu yang kini menjadi kebutuhan paling mendesak bagi warga: air bersih.
Pemandangan itu menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar. Krisis air di Barru tidak lagi sekadar soal keran yang mengering, tetapi telah menjadi persoalan pelayanan dasar yang memaksa berbagai pihak bekerja dalam kondisi darurat.
Dari lima unit truk tangki yang dimiliki PDAM Barru, empat unit disebut sedang mengalami kerusakan. Artinya, hanya satu armada yang dapat beroperasi secara maksimal untuk mendistribusikan air kepada warga yang membutuhkan.
Dalam situasi tersebut, satu truk tangki praktis menjadi salah satu tumpuan distribusi air bersih bagi pelanggan yang pasokan air melalui jaringan perpipaan mulai terganggu.
Sumber Air Menurun, Beban Distribusi Meningkat
Tekanan terhadap pelayanan air bersih semakin berat setelah debit sejumlah sumber mata air utama mengalami penurunan drastis.
Waesai, Marolly, dan Batu Bessi menjadi sejumlah sumber yang terdampak kondisi kekeringan. Penurunan debit membuat kemampuan sistem penyediaan air bersih ikut tertekan.
Dampaknya dirasakan langsung masyarakat. Di sejumlah titik, warga harus menunggu distribusi air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga mandi.
Situasi ini membuat pola pelayanan berubah. Ketika jaringan tidak mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, distribusi melalui armada tangki menjadi langkah darurat yang harus dilakukan.
Namun, persoalannya bukan hanya jumlah warga yang membutuhkan air. Kapasitas armada yang terbatas membuat proses distribusi harus dilakukan berulang kali, dari satu titik ke titik lainnya.
Bang Nas mengakui kondisi tersebut membuat petugas kewalahan.
“Jujur saja, kami ini kewalahan. Bayangkan, ratusan rumah tangga antre, warga butuh air untuk masak dan mandi, tapi kami cuma punya satu armada yang bisa jalan,” ungkapnya.»
Menurut dia, petugas harus mengatur waktu sedemikian rupa agar distribusi tetap berjalan. Jam kerja pun terkadang harus melewati batas normal.
“Putar otak, bagi waktu, bahkan tidur pun kami curi-curi di jalan,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan dari sejumlah instansi turut menopang distribusi. Armada dari BPBD, Damkar, dan PMI disebut ikut membantu memenuhi kebutuhan air warga.
Bagi petugas di lapangan, distribusi air dalam kondisi krisis bukan sekadar persoalan teknis mengisi tangki dan mengantarkannya ke pelanggan.
Ada wajah-wajah warga yang menunggu di ujung perjalanan.
Bang Nas mengatakan, kelegaan warga ketika air akhirnya tiba menjadi salah satu alasan dirinya dan rekan-rekannya tetap menjalankan tugas meski harus bekerja hingga menembus subuh.
“Walaupun kami harus tembus subuh, menerjang dingin, melihat wajah lega saudara kita yang akhirnya mendapatkan air lagi, meskipun cukup untuk air minum dan mandi, itu sudah jadi bayaran termahal bagi kami,” ujarnya.
Baginya, kondisi darurat menuntut petugas untuk tetap hadir di tengah masyarakat.
“Kami ndak mau membiarkan saudara kami kehausan, apalagi sumber air Waesai dan Batu Bessi sudah drop sekali. Langkah darurat ini harus kami ambil,” lanjutnya.
Pernyataan itu memperlihatkan sisi lain dari krisis air: ketika infrastruktur dan sumber daya terbatas, keberlangsungan pelayanan publik sangat bergantung pada kemampuan petugas di lapangan untuk bergerak cepat.
Krisis air juga membuka persoalan yang lebih mendasar mengenai ketahanan sistem pelayanan air bersih.
Lima unit armada tangki seharusnya menjadi instrumen distribusi ketika terjadi gangguan pasokan. Namun ketika empat unit tidak dapat beroperasi, ruang gerak pelayanan menjadi jauh lebih sempit.
Satu unit yang tersisa harus bekerja lebih keras untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan.
Kondisi tersebut membuat distribusi air tidak cukup hanya mengandalkan semangat petugas. Dibutuhkan dukungan armada, perbaikan sarana, penguatan sumber air, serta strategi jangka panjang untuk menghadapi penurunan debit sumber air.
Sebab, jika kondisi sumber air terus menurun, distribusi menggunakan tangki hanya menjadi solusi sementara.
Di titik inilah krisis air Barru bukan lagi semata persoalan hari ini. Ia menjadi peringatan mengenai pentingnya ketahanan sumber air dan kesiapan infrastruktur menghadapi periode kekeringan.
Di tengah tekanan pekerjaan, Bang Nas menyebut dukungan pimpinan menjadi salah satu sumber semangat bagi petugas.
Ia mengaku Direktur PDAM Barru terus memberikan dukungan moral agar petugas tetap menjalankan pelayanan meski menghadapi keterbatasan di lapangan.
“Bekerjalah dengan tulus sekalipun tempat kerja tidak membuat kita kaya. Yang penting bekerja dengan ikhlas, insya Allah Tuhan akan membalas kebaikan kita.”
Bagi petugas yang setiap hari berhadapan langsung dengan keluhan warga, bekerja dalam situasi krisis bukan pekerjaan ringan. Namun, pelayanan tetap harus berjalan karena kebutuhan air tidak mengenal jam kerja.
Mesin truk kembali menderu ketika langit Barru mulai terang. Satu-satunya armada yang masih beroperasi itu kembali bergerak membawa air menuju warga yang menunggu.
Di balik perjalanan sebuah truk tangki, sesungguhnya ada persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah daerah mempertahankan pelayanan air bersih ketika sumber air terus menurun dan infrastruktur pendukung berada dalam keterbatasan.
Bang Nas mungkin hanya satu orang di balik kemudi. Tetapi pagi itu, ia membawa lebih dari sekadar air.
Ia membawa harapan bagi warga yang kerannya tak lagi mengalir.
Dan di tengah krisis, setiap tetes air menjadi pengingat bahwa pelayanan publik diuji bukan ketika semuanya berjalan normal, melainkan ketika sumber daya terbatas dan masyarakat justru paling membutuhkan kehadiran negara.(ABM–Oborbangsa)

