BONE — Kepergian seseorang tidak hanya meninggalkan kenangan bagi keluarga, tetapi juga jejak perjalanan hidup yang pernah memberi arti bagi orang-orang di sekitarnya. Begitu pula dengan Mustafa, SH, MH, wartawan senior asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang meninggal dunia pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, dalam usia 62 tahun.
Mustafa mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 21.00 Wita di Rumah Sakit Tentara dr. M. Yasin, Watampone, setelah menjalani perawatan akibat komplikasi penyakit.
Kabar kepergiannya membawa duka bagi keluarga, rekan sejawat, dan orang-orang yang mengenal perjalanan pengabdiannya. Di balik kabar duka tersebut, tersimpan kisah perjalanan seorang pria yang pernah mengabdikan dirinya di dunia jurnalistik, menjadi aparatur sipil negara, hingga mendirikan organisasi yang bergerak di bidang antikorupsi.
Bagi Mustafa, dunia jurnalistik pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pada era Reformasi 1998, ia bergabung dengan Surat Kabar Umum Obor Bangsa yang dipimpin almarhum Andi Jamaluddin S.
Di media tersebut, Mustafa dipercaya menjalankan tugas sebagai kepala biro di Kabupaten Bone. Tanggung jawab itu menjadi bagian dari kiprahnya dalam dunia pers, sekaligus mempertemukannya dengan rekan-rekan wartawan yang kemudian mengenang dirinya sebagai sosok berdedikasi.
Agus, salah seorang rekan sejawatnya, masih mengingat kebersamaan mereka ketika bekerja di media tersebut. Hubungan profesional itu juga terjalin melalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan.
“Kami bersama di SKU Obor Bangsa dan satu organisasi di PWI Sulawesi Selatan. Beliau ditempatkan sebagai kepala biro di Kabupaten Bone. Soal kerja, beliau sangat luar biasa dan berdedikasi tinggi,” kenang Agus.
Bagi rekan-rekannya, pengalaman bekerja bersama Mustafa menjadi bagian dari perjalanan panjang mereka dalam dunia jurnalistik.
Perjalanan Mustafa tidak berhenti ketika ia tak lagi aktif sebagai wartawan. Ia kemudian mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) di salah satu kantor pemerintahan di Kabupaten Bone hingga memasuki masa pensiun.
Memasuki masa purnabakti, Mustafa kembali menjalani aktivitas pengabdian melalui jalur yang berbeda. Ia mendirikan LSM LACAK RI, organisasi yang bergerak di bidang antikorupsi.
Organisasi tersebut berkembang dengan ratusan anggota dan jaringan yang menjangkau sejumlah wilayah di luar Sulawesi, termasuk Jawa dan Maluku.
Pendirian LACAK RI menjadi babak lain dalam perjalanan hidupnya. Setelah menjalani profesi wartawan dan mengabdi sebagai ASN, Mustafa tetap aktif melalui organisasi yang dipimpinnya.
Kiprahnya di organisasi tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan hidup yang dikenang oleh para anggota dan orang-orang yang mengenalnya.
Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan Mustafa dilaporkan menurun sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit pada Sabtu untuk menjalani pemeriksaan.
Muhammad Tahir, adik almarhum, mengatakan bahwa keluarga awalnya menduga kondisi tersebut berkaitan dengan kelelahan. Namun, Mustafa kemudian diketahui mengalami komplikasi penyakit dan harus menjalani perawatan intensif.
Upaya perawatan medis tidak mengubah kenyataan bahwa keluarga akhirnya harus kehilangan sosok yang mereka cintai.
Mustafa meninggalkan 10 orang anak dan sembilan orang cucu. Bagi keluarga, kepergiannya menjadi kehilangan yang tidak tergantikan. Sementara bagi rekan-rekan wartawan dan anggota LACAK RI, ia meninggalkan kenangan tentang perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya.
Jenazah Mustafa direncanakan dimakamkan pada Senin, 26 Oktober 2026, di pemakaman Cina di Kabupaten Bone.
Kepergian Mustafa menutup perjalanan hidup seorang pria yang pernah menjalani berbagai peran, dari wartawan hingga pendiri organisasi masyarakat. Namun, kenangan tentang kiprahnya akan tetap hidup dalam ingatan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
“Selamat jalan, saudara. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosa almarhum, melapangkan serta menerangi alam kuburnya, dan menerima seluruh amalnya,” tutur Agus. (Indra-oborbangsa)

