Rintik hujan membasahi jalan Bung Tamalanrea Makassar saat Sulastri melangkah keluar dari mobil yang mengantarkannya.
Udara Makassar masih terasa sama seperti yang ia ingat—hangat dan penuh kenangan.
Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan kota ini, tempat di mana mimpinya sebagai seorang bidan pertama kali tumbuh dan bersemi.

Kini, ia kembali, bukan sebagai mahasiswi, tetapi sebagai seorang profesional, seorang bidan di Rumah Sakit Pertamina Jakarta.
Sulastri menatap bangunan Politeknik Sandi Karsa Makassar yang berdiri megah di hadapannya.
Tempat ini bukan sekadar kampus, melainkan rumah kedua yang telah mengajarkan begitu banyak hal tentang ilmu, kehidupan, dan persahabatan.
Ia melangkah masuk, membiarkan setiap sudutnya membawa kembali memori indah yang pernah ia lalui.
Dulu, ia datang dari Kabupaten Takalar dengan hati penuh harapan, meski terselip sedikit keraguan.
Sebagai mahasiswa dari kampus swasta, ia sempat merasa minder.
Namun, perlahan ia menyadari bahwa kampus ini memberikan lebih dari sekadar gelar—kampus ini membentuk dirinya menjadi seorang bidan yang tangguh dan profesional.
Dosen-dosen yang penuh dedikasi, fasilitas laboratorium yang memadai, serta suasana akademik yang mendukung, semua itu membuatnya berkembang.
Ia masih ingat hari-hari panjang di ruang praktik kebidanan, belajar menangani persalinan dengan teliti, memahami anatomi, dan mengasah empati terhadap pasien.
Tak hanya itu, lingkungan sekitar juga memberi warna tersendiri dalam hidupnya.
Kos-kosan sederhana tempat ia tinggal, warung makan langganannya, hingga keramahan penduduk sekitar yang membuatnya merasa diterima dengan hangat.
Namun, yang paling ia rindukan adalah dua sahabatnya, Arni dan Agnes, dua mahasiswi asal Maluku yang selalu bersamanya dalam suka dan duka.
Mereka belajar bersama, tertawa, menangis, dan saling mendukung. Sulastri merindukan gelak tawa mereka, obrolan hingga larut malam, serta impian-impian yang dulu mereka rangkai bersama.
Kini, Sulastri berdiri di depan ruang kelasnya dulu. Ia tersenyum.
Semua pencapaiannya saat ini tak lepas dari fondasi yang dibangun di tempat ini.
Kampus Politeknik Sandi Karsa bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat yang membentuk masa depannya.
Ia ingin semua orang tahu bahwa kampus ini bukan hanya pilihan, tetapi juga peluang untuk menjadi lebih baik.
Sulastri menghirup udara dalam-dalam dan melangkah mantap.
Ia tahu, di sinilah semuanya bermula, dan ia bangga menjadi bagian dari Politeknik Sandi Karsa Makassar.
(Kisah Sulastri di tulis Oleh Redaksi OborSulsel)

