Oleh: Pendy Palallo Anggota PWI Gowa
Waktu itu aneh. Ia tak punya suara, tapi semua orang mendengarnya.
Ia tak punya wujud, tapi semua orang merasakannya.

Kadang terasa cepat saat bahagia, terasa lambat saat menunggu, dan terasa hilang saat menyesal.
Banyak orang berdoa meminta rezeki, tapi lupa bahwa rezeki sering datang dalam bentuk waktu.
Waktu belajar, waktu bekerja, waktu memperbaiki diri.
Tapi, waktu sering disia-siakan kemudian disalahkan.
Kita marah pada waktu karena ia berjalan terus. Padahal waktu tidak pernah salah. Yang salah, kita yang diam.
Seorang teman di organisasi wartawan pernah bilang: “Andai diberi sedikit waktu lagi, semua bisa beres.” Saya hanya tersenyum.
Semua orang selalu ingin sedikit waktu lagi — seperti murid yang belum siap ujian, atau pejabat yang belum siap mundur.
Sore ini, di kantor PWI Gowa, perdebatan seru. Antara anggota dan pengurus. Soal satu kata sederhana: DEMISIONER.
Semua minta waktu. Katanya, urusan organisasi masih bisa dibereskan, laporan masih bisa disusun, musyawarah masih bisa digelar.
Tapi dari sisi lain, PWI Sulsel tegas menjawab: “Waktunya sudah habis. Pengurusan diambil alih.”
Begitulah waktu. Ia tidak bisa ditawar, tidak bisa dinegosiasi, dan tidak bisa diundur.
Ia berjalan, dan siapa yang tak ikut berjalan bersamanya akan ditinggalkan.

