RANTEPAO – Ribuan rumpun keluarga besar Tongkonan Potoksia dan Tongkonan Kamiri berkumpul di Buntu Pune, Kabupaten Toraja Utara, dalam tradisi adat Merok, Kamis lalu (6/11/2026)
Tradisi ini bukan sekadar pesta adat, tetapi menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan identitas dan ikatan kekeluargaan masyarakat Toraja.
Ratusan ekor babi dibawa oleh rumpun keluarga sebagai bagian dari rangkaian persembahan. Suasana kebersamaan semakin semarak dengan penampilan kesenian tradisional Manibong dan Ma’dandan dari rumpun keluarga Bittuang, Kabupaten Tana Toraja.
Ketua Panitia Merok, Ayub Toding Allo, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari kesepakatan keluarga besar untuk mempererat hubungan persaudaraan, khususnya rumpun keluarga Tongkonan Kamiri dan Tongkonan Potoksia.
“Semua ini kami syukuri. Keluarga sangat antusias menghadiri kegiatan ini dan mereka hadir tanpa pamrih,” ungkap Ayub.
Sementara itu, tokoh adat Marselinus Dua Lembang (To Mina) menjelaskan bahwa Merok merupakan puncak rangkaian ritual adat yang sebelumnya diawali prosesi kerbau atau disomba di Tombak.
Menurutnya, kegiatan ini mempertemukan keturunan leluhur Tongkonan Potoksia, Tombi dan Sole, serta Tongkonan Kamiri yang dibangun oleh Pong Maramba dan Sindo’ Kari’pang.
Selain ritual adat dan pertunjukan budaya, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pembagian daging babi kepada masyarakat adat di wilayah Ba’tan.
Lebih dari sekadar tradisi, Merok menjadi momentum menyatukan keluarga lintas generasi, mengenang jasa leluhur, serta menjaga nilai-nilai budaya Toraja agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dari Buntu Pune, Merok kembali menegaskan bahwa kekuatan masyarakat Toraja tidak hanya terletak pada warisan leluhur, tetapi juga pada persaudaraan yang terus dijaga. (Albert-oborbangsa)

