“Sesungguhnya karena kesabaran rakyatku bersedia memberikan apa yang mereka inginkan dalam Perjanjian Bungaya melalui aku; tapi mereka menghendaki jantungku, dan hari ini adalah martabat dan harga diri setiap manusia!“- Sultan Hasanuddin
Malam itu,- di kampung Macciniayo yang terhampar di lereng Bukit To’dang Anging, atau yang dikenal sebagai Bukit Manggarupi, langit Gowa gelap pekat.
Awan mendung bergelayut rendah, seolah turut meratap bersama rakyat yang ditinggalkan para pahlawannya.

Di sudut-sudut desa yang sunyi, tangisan histeris membelah keheningan malam.
Anak-anak yang kelelahan merintih dalam kelaparan, sementara para ibu meratap pilu, mengenang suami dan anak-anak mereka yang telah gugur sebagai Tubarani di medan perang (Tu Menanga‘).
Menatap dari bukit, Benteng Somba Opu nampak telah hampir runtuh.
Asap hitam membumbung dari reruntuhan yang menjadi saksi bisu kegagahan para pejuang.
Di antara puing-puing yang terbakar, tubuh-tubuh mereka bergelimpangan, darah suci mengalir, menyatu dengan tanah yang mereka pertahankan hingga helaan napas terakhir.
Sombaya (Raja) Sultan Hasanuddin, meski terluka dan letih, tetap berdiri tegak.
Matanya menerawang ke hamparan malam yang pekat, menyelami duka rakyatnya yang kini tertatih di ambang keputusasaan.
Di dapur-dapur yang tersisa, para wanita mengais sisa-sisa harapan. Beras tinggal butiran, air pun mulai langka.
Mereka yang masih bertahan, menggantungkan hidup pada dedaunan dan umbi-umbian yang tersisa.
Di balik bayang-bayang lentera yang meredup, lelaki-lelaki tua duduk dalam diam, saling bertukar pandang dengan mata yang penuh luka, namun tetap memendam bara perlawanan.
Malam 15 Ramadan 1669 itu, suara-suara takbir masih menggema, meski lirih dan terbata-bata.
Mereka tahu, esok mungkin bukan lagi milik mereka.
Namun satu hal yang pasti, harga diri dan kehormatan Kerajaan Gowa tidak akan pernah runtuh meski benteng mereka hancur.
Para Tubarani telah menunjukkan jalan, dan bagi mereka yang masih hidup, perjuangan belum berakhir meskipun meriam anak Gowa telah direbut.
Di balik reruntuhan Somba Opu, seorang pemuda bernama Daeng Paewang masih menggenggam Sele’ pusaka (Kiris) yang berlumuran darah.
Nafasnya tersengal, tubuhnya penuh luka, namun tekadnya tak goyah.
Ia menatap langit yang kelam, seakan mencari jawaban dari pappasang (pesan leluhur) nenek moyangnya.
“Gowa tak akan mati,” bisiknya lirih, sebelum ia melangkah ke dalam kegelapan, menuju perbukitan tempat para pejuang yang tersisa menyusun rencana terakhir mereka.
Di sisi lain, di sudut kampung, seorang perempuan tua, I Pata Bau Karaeng Ratu, menatap hamparan sawah yang kini gersang abis terbakar.
Dahulu, tanah ini subur, memberi makan anak-anak dan cucunya.
Kini hanya ada kehampaan dan bayang-bayang kelaparan.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat kepalanya ke langit.
“Ya Allah, kuatkan kami,” ucapnya lirih.
Malam itu, doa-doa bertaburan, mengalir bersama kepedihan yang tak terbendung.
Kisah pun berlanjut tentang ” Tubarani Terakhir dari Beteng Tangngaya”
Bersambung..

