WATAMPONE– Aksi penolakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berubah menjadi kericuhan.
Demonstrasi besar-besaran yang digelar ribuan massa pada Selasa (19/8/2025) siang berakhir bentrok dengan aparat, mengakibatkan enam petugas kepolisian dan Satpol PP luka-luka akibat lemparan batu.

Isu kenaikan PBB-P2 hingga 300 persen menjadi pemicu utama ledakan protes.
Meski Pemkab Bone membantah dengan menyebut penyesuaian tarif hanya 65 persen berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional (BPN), kemarahan warga sudah tak terbendung.
Sejak pukul 13.00 Wita, massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bone mendatangi Kantor Bupati Bone. Sebanyak 1.000 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi.
Awalnya, unjuk rasa berjalan tertib hingga menjelang sore massa mulai mendesak aparat membuka barikade kawat berduri.
“Kami beri waktu lima menit menghadirkan bupati dan wakil bupati. Kalau tidak datang, maka kami yang akan masuk menemuinya,” tegas Jenderal Lapangan Rafli Fasyah dalam orasinya.
Permintaan itu tak dipenuhi, massa pun merangsek ke pekarangan kantor bupati dengan menjebol pagar.
Polisi melepaskan tembakan peringatan, namun situasi tak terkendali. Upaya dialog yang difasilitasi Pj Sekda Bone Andi Saharuddin, Kabag Hukum Ramli, dan Kepala Diskominfo Anwar juga berakhir tanpa kesepakatan.
Kericuhan kembali pecah ketika massa melempari aparat dengan batu. Polisi membalas dengan tembakan gas air mata. Akibatnya, empat anggota Satpol PP mengalami luka, dua di antaranya dengan kepala pecah.
Dua anggota polisi juga menjadi korban, salah satunya nyaris kehilangan jari akibat lemparan benda keras.
“Ada dua anggota polisi yang luka, Brimob Aipda Rahmat ibu jarinya hampir putus, sementara Bripda Awal luka robek di kening,” ujar anggota Polres Bone, Aipda H Karman.
Bentrok berlangsung hingga malam. Polisi berhasil membubarkan massa sekitar pukul 20.30 Wita, namun kelompok demonstran berpencar ke sejumlah titik, termasuk Jalan Ahmad Yani, MT Haryono, Wahidin Sudirohusodo, dan HOS Cokroaminoto. Massa bahkan sempat menyalakan petasan di depan SD 24 Macang Bone.
Kapolres Bone, AKBP Sugeng Setyo Budhi, menduga aksi ricuh ini disusupi kelompok anarko dari luar daerah.
“Aksi sudah bubar, tapi ada pihak-pihak anarko yang memprovokasi hingga terjadi bentrok. Sejumlah orang dari luar Bone sudah diamankan,” ungkapnya.

Warga Nilai Solusi Belum Jelas
Meski Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, telah mengutus tim khusus untuk mengevaluasi kebijakan PBB, langkah itu dinilai belum membuahkan hasil nyata. Warga menuntut adanya solusi konkret, terlebih anggaran Pemkab Bone disebut tidak mencukupi kebutuhan pembangunan dan operasional daerah.
Sejumlah warga bahkan menyuarakan kekecewaan. Salah seorang warga Taccipi, Yasir, menyebut kepemimpinan Bone hari ini minim terobosan.

“Bupati Bone kami anggap gagal memberi solusi kreatif. Selama ini hanya mengandalkan beban APBD dan akhirnya membebani rakyat dengan pajak.”

“Mengherankan, para pejabat hidup bermegah sementara masyarakat makin sulit,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Laporan: Pen


