JENEPONTO,– Air Sungai Jombe nampak mengalir tenang, tapi menyimpan luka mendalam. Sabtu (5/4/2025), di Turatea satu nyawa muda berpulang dalam suasana duka yang berlapis.
Muhammad Ilham (14), pelajar SMP asal Makassar, ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya tenggelam saat bermain air di sungai tersebut.
Namun kepergian Ilham bukan hanya sebuah kecelakaan tragis. Ia datang ke Jeneponto bukan sekadar berlibur melainkan untuk ikut dalam ziarah keluarga memperingati 100 hari wafatnya sang nenek tercinta.

Tak ada yang menyangka, momen untuk mengenang satu kehilangan justru berubah menjadi kepergian berikutnya dalam keluarga.
Pagi itu, Ilham ikut sang bibi ke sungai tempat biasa mencuci. Bersama dua kerabatnya, ia meloncat ke aliran yang tampak tenang.
Tapi kenyataan berkata lain Ilham tak pernah muncul kembali ke permukaan. Dua kerabatnya selamat. Ilham, hilang ditelan arus.
Pencarian segera digelar. Tim SAR, BPBD, aparat, dan warga setempat bergerak cepat.
Setelah tujuh jam yang menegangkan, jasad Ilham ditemukan sekitar pukul 17:30 WITA, tak jauh dari titik awal tenggelam. Suasana haru pun menyelimuti lokasi.
“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke Puskesmas,” ungkap Tiwi, staf BPBD Jeneponto, Minggu (6/4/2025).
Bupati Jeneponto, Paris Yasir, turut memantau dan memerintahkan pencarian sejak awal.
Kapolres Jeneponto, AKBP Widi Setiawan, juga hadir di rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung.
Hari yang seharusnya menjadi penenang jiwa dalam mengenang sang nenek, justru menambah luka baru bagi keluarga.
Seakan alam memanggil kembali satu jiwa untuk menemani yang telah lebih dulu pergi.
Kini, Sungai Jombe tak hanya jadi saksi air mata 100 hari kepergian sang nenek—tetapi juga jadi tempat Ilham menghembuskan napas terakhirnya.
Sebuah kisah duka yang membuat waktu seolah berhenti, dan air sungai mengalir membawa dua nama yang kini dikenang dalam satu ziarah.
Laporan: pen
Editor: Ahmad/ OborJeneponto

