TORAJA UTARA — Di tengah perubahan zaman, upaya menjaga pengetahuan dan nilai leluhur terus dirawat dari kampung-kampung adat di Sulawesi.
Tongkonan Pao, wilayah adat Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, menjadi tempat berkumpulnya pengurus sekolah adat dari berbagai daerah di Sulawesi pada 15–16 September 2026. Sebanyak 30 sekolah adat hadir dalam konsolidasi bertema “Gali, Rawat, Wariskan.”
Pertemuan ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, menyamakan persepsi, sekaligus merumuskan strategi penguatan sekolah adat agar tetap relevan di tengah modernisasi.

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi mengatakan sekolah adat merupakan salah satu jalan untuk memperkuat wilayah adat, kampung, organisasi, dan gerakan masyarakat adat.
“Sekolah adat adalah alat dan jalan, sekolah adat adalah cara kita memperkuat wilayah adat, memperkuat kampung, memperkuat organisasi, memperkuat gerakan Masyarakat Adat.”
Menurut Rukka, sekolah adat juga menjadi ruang untuk mendokumentasikan dan mempelajari sistem pengetahuan, politik, budaya, ekonomi, serta kepercayaan masyarakat adat.
Karena itu, sekolah adat harus terhubung dengan kehidupan kampung, ketua adat, perempuan adat, dan unsur sosial lainnya. Sekolah adat juga lahir dari musyawarah adat.
“Sampai saat ini, sudah 30 sekolah adat di Sulawesi yang lahir dari musyawarah adat,” katanya.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Toraya Romba Marannu Sombolinggi’ mengatakan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur perlu terus dipelihara melalui sekolah adat.
“Di tangan kita lah generasi akan berlanjut, di tangan kita lah budaya akan lestari. Suatu bangsa akan hancur ketika ingatan sejarahnya hilang,” ujarnya.
Menurut Romba, masyarakat Toraya menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya pergeseran nilai budaya. Ia menilai pemisahan adat dan aluk atau kepercayaan turut memengaruhi perubahan tersebut.
“Pemisahan adat dan aluk kemudian mencabut dari budaya kita, jadi adat berjalan seolah-olah tanpa roh. Pergeseran nilainya sangat luar biasa,” katanya.
Ia juga menyinggung perubahan tata pemerintahan desa yang menurutnya turut mengurangi peran pemangku adat.
“Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi,” pesan Romba kepada para peserta.
Staff Kedeputian IV PB AMAN Marolop Manalu mengatakan konsolidasi sekolah adat region Sulawesi baru pertama kali dilaksanakan.
Para peserta saling berbagi pengalaman mengenai tantangan dan keberhasilan pengelolaan sekolah adat di daerah masing-masing. Mereka juga membahas program berbasis kearifan lokal serta penguatan kelembagaan agar sekolah adat dapat berjalan mandiri dan berkelanjutan.
“Di pertemuan ini, kita menguatkan satu sama lain, kita mendalami prinsip yang menjadi koridor bersama ke depan,” ujar Marolop.
Ia menambahkan, sekolah adat di berbagai komunitas perlu terus didorong untuk berkembang, baik yang baru berinisiatif maupun yang telah terbentuk tetapi belum berjalan maksimal.
Dari Tongkonan Pao, konsolidasi ini menegaskan satu hal: pengetahuan adat perlu tetap hidup di tengah komunitas, dipelajari oleh generasi muda, dan diteruskan melalui kehidupan kampung. (MuhlisPajari-oborbangsa)

