SUNGGUMINASA – Kepemimpinan Bupati Gowa, Dr. Husniah Talenrang, dinilai telah mengawali langkah-langkah penuh empati sosial. Namun, bagi akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Dr. Kaharuddin, kepedulian saja belum cukup.
Ia menilai, program-program yang berjalan masih membutuhkan terobosan substansial untuk benar-benar mengubah wajah pembangunan Kabupaten Gowa.
“Humanis itu penting, tapi harus dibarengi ketegasan arah kebijakan. Servant Leadership bukan hanya mendengarkan, tetapi melayani rakyat dengan menghadirkan program nyata yang bisa dirasakan manfaatnya secara kolektif,” ujarnya, Jumat (8/8/2025).

Kaharuddin melihat, membangun Gowa tak cukup hanya dengan mengandalkan ketegasan yang kaku.
Pemimpin humanis, katanya, harus memberi ruang dialog, bahkan ruang “curhat” dalam struktur pemerintahan, sehingga masalah sosial dapat melahirkan kebijakan produktif.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya sikap humanis yang menjangkau keluar.
“Bupati harus membuka ruang kerja sama dengan investor dan memanfaatkan jejaring anggota DPR RI yang memiliki program berdampak langsung bagi masyarakat,” jelas mantan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Gowa (Hipma-Gowa) ini.
Bagi Kaharuddin, perangkat daerah tidak boleh pasif. Dinas-dinas di lingkup Pemkab Gowa harus berani menawarkan ide dan konsep kreatif yang memikat investor, sehingga pembangunan tidak selalu tergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang kian terbatas.
Dorongan yang sama ia tujukan kepada anggota DPRD Gowa. Mereka, kata Kaharuddin, mestinya memanfaatkan jalur partai politik untuk mengakses program-program pusat, bukan sekadar mengandalkan anggaran daerah.
“Bupati tidak bisa bekerja sendiri. Pembangunan memerlukan pikiran kolektif,” tegasnya.
Kaharuddin juga mengusulkan pembentukan tim promosi daerah yang bertugas khusus menarik investor strategis, sekaligus menjalin kemitraan erat dengan DPR RI.
Strategi ini, menurutnya, adalah bentuk Servant Leadership sejati: memanfaatkan jejaring eksternal untuk menjawab kebutuhan rakyat ketika ruang fiskal daerah semakin sempit.
“Jangan biarkan APBD menjadi alasan stagnasi. Justru keterbatasan harus memicu inovasi dan lobi politik yang sistematis,” ujarnya.
Ia mengingatkan, masyarakat akan mengukur kepemimpinan bukan dari banyaknya rapat atau rancangan program, tetapi dari bukti nyata di lapangan mulai dari perputaran ekonomi, inovasi pertanian, hingga terobosan di sektor pendidikan.
“Humanis bukan sekadar ramah. Humanis berarti memastikan rakyat merasakan hasil. Servant Leadership bukan hanya melayani, tetapi mengawal setiap peluang hingga menjadi program nyata,” pungkasnya.
Laporan: Iwan
Editor: OborGowa

