BARRU – Krisis air baku di Kabupaten Barru mulai memasuki fase yang menekan pelayanan publik. Penurunan debit sumber air Waesai membuat PDAM Tirta Waesai harus membatasi produksi dan jam operasional instalasi untuk mempertahankan distribusi air kepada pelanggan.
Kepala Bagian Teknik PDAM Tirta Waesai, H. Amiruddin, S.Sos., mengatakan debit air dari sumber Waesai yang menjadi salah satu tumpuan utama pelayanan wilayah Barru kota kini hanya berada di kisaran 10 liter per detik. Kondisi tersebut jauh di bawah kapasitas normal yang mencapai sekitar 50 liter per detik.
Penurunan itu berarti ketersediaan air baku tinggal sekitar seperlima dari kondisi normal. Bagi perusahaan daerah yang bertugas memenuhi kebutuhan air masyarakat, persoalannya bukan lagi sekadar penurunan produksi, tetapi bagaimana mempertahankan distribusi ketika sumber air terus menyusut.

“Di instalasi Batubessi, kami hanya bisa beroperasi maksimal 10 jam sehari karena kekurangan air baku. Tidak mungkin dipaksakan 24 jam jika sumbernya sendiri sudah menipis,” kata Amiruddin kepada oborbangsa.id, Jumat (18/9/2026).
Pembatasan operasional tersebut berdampak pada sejumlah wilayah pelayanan. PDAM menyebut Pelayanan Kota Barru, Unit IKK Balusu, dan Unit IKK Pekkae sebagai wilayah yang terdampak kondisi sumber air baku.
Dalam situasi normal, distribusi air bergantung pada kemampuan instalasi mengolah dan mengalirkan air secara berkelanjutan. Namun ketika debit sumber turun drastis, kemampuan produksi ikut terpangkas.
Kondisi ini membuat distribusi harus dikelola secara lebih ketat. Air yang tersedia harus dibagi agar pelayanan tidak sepenuhnya terhenti pada satu wilayah, sementara wilayah lain masih memperoleh pasokan.
Di tingkat rumah tangga, dampaknya dapat dirasakan melalui berkurangnya jam aliran maupun terganggunya kontinuitas pasokan. Bagi warga yang tidak memiliki cadangan air memadai, pembatasan distribusi dapat langsung berpengaruh terhadap kebutuhan dasar sehari-hari.
PDAM Tirta Waesai telah menyiapkan mekanisme tanggap darurat bagi pelanggan yang mengalami kesulitan memperoleh air.
Warga yang benar-benar tidak mendapatkan aliran air dapat melaporkan kondisi tersebut kepada PDAM untuk kemudian dijadwalkan memperoleh pasokan melalui armada tangki.
Namun distribusi menggunakan tangki bukan pengganti permanen jaringan perpipaan. Layanan tersebut lebih merupakan langkah darurat untuk menjangkau pelanggan ketika kemampuan sistem distribusi reguler tidak mampu memenuhi kebutuhan.
Ketersediaan armada, jarak wilayah pelayanan, serta tingkat urgensi kebutuhan menjadi bagian dari tantangan dalam mekanisme tersebut.
Karena itu, keberhasilan penanganan krisis tidak hanya bergantung pada distribusi air menggunakan tangki, tetapi juga pada keberlanjutan sumber air baku.
Penurunan debit dari sekitar 50 liter per detik menjadi 10 liter per detik menunjukkan bahwa tekanan terbesar saat ini berada pada sumber air.
Ketika sumber air baku menurun, peningkatan kapasitas produksi instalasi tidak otomatis menyelesaikan masalah. Instalasi pengolahan air hanya dapat mengolah air yang tersedia.
Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi PDAM bukan semata persoalan teknis distribusi, melainkan keterbatasan pasokan di hulu.
Situasi tersebut juga memperlihatkan betapa rentannya sistem pelayanan air perkotaan terhadap perubahan kondisi hidrologis. Ketika periode kering berlangsung panjang dan hujan belum kembali secara konsisten, cadangan air baku dapat terus tertekan.
Dalam kondisi pasokan terbatas, PDAM meminta pelanggan mengurangi penggunaan air yang tidak mendesak.
Imbauan tersebut bukan hanya ditujukan untuk menjaga ketersediaan air di tingkat rumah tangga, tetapi juga untuk mempertahankan pemerataan distribusi.
“Setiap tetes yang diboroskan oleh satu rumah tangga berarti pengurangan jatah bagi tetangga lainnya,” ujar Amiruddin.
Penghematan air dalam kondisi krisis menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pasokan yang tersedia dan kebutuhan pelanggan.
Bagi masyarakat, bentuk penghematan dapat dilakukan dengan menggunakan air sesuai kebutuhan, menghindari pemborosan, serta menyimpan air secara bijak ketika pasokan kembali mengalir.
Di tengah keterbatasan teknis tersebut, datangnya hujan menjadi salah satu faktor yang paling menentukan pemulihan sumber air.
Harapan itu bahkan diwujudkan melalui pelaksanaan salat Istisqa yang diikuti masyarakat dan berbagai elemen di Kabupaten Barru. Kegiatan tersebut menjadi gambaran bagaimana persoalan air telah berkembang menjadi persoalan sosial yang dirasakan masyarakat secara luas.
Namun dari sisi pelayanan, PDAM tetap harus mengandalkan langkah teknis untuk menghadapi kondisi yang ada.
Amiruddin mengatakan jajaran teknisi di pelayanan BNA dan unit IKK terus berupaya memaksimalkan pelayanan meski bekerja dalam kondisi sumber air yang terbatas.
“Kami sangat berharap doa-doa kita dikabulkan Allah SWT. Secara teknis kami sudah berusaha maksimal, tapi alam tetap punya kendali,” katanya.
Hingga Jumat (18/9/2026), PDAM Tirta Waesai belum dapat memastikan kapan produksi dan distribusi air akan kembali ke kondisi normal.
Kepastian tersebut sangat bergantung pada pemulihan debit sumber air baku. Selama sumber Waesai belum kembali mendekati kapasitas normal, pembatasan produksi masih menjadi pilihan yang harus ditempuh.
Krisis ini pada akhirnya menempatkan tiga kepentingan dalam satu persoalan: keterbatasan sumber air, kemampuan PDAM mempertahankan distribusi, dan perilaku konsumsi masyarakat.
Jika hujan belum kunjung turun dan debit sumber terus menurun, tekanan terhadap pelayanan air bersih berpotensi semakin besar.
Karena itu, bagi warga Barru, persoalan air saat ini bukan lagi sekadar soal kapan keran kembali mengalir normal. Persoalannya adalah bagaimana pasokan yang semakin terbatas dapat dibagi secara adil sampai sumber air kembali pulih. (ABM-oborBarru)

