Barru- “Catatan Pinggir Cangkir Kopi” Di sudut warkop favoritku, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sini, di antara denting sendok yang beradu dengan gelas kaca dan kepulan asap rokok yang menari-nari di udara, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pengamat biasa. Seorang warga yang setiap pagi menyeruput kopi hitam sambil menyaring kabar-kabar dari layar ponsel dan obrolan tetangga.
Dulu, kami kadang sering mengeluh. Keluhan itu seperti gula yang tak larut, mengendap di dasar cangkir dengan sedikit kekecewaan. Jalan berlubang, drainase mampet, atau fasilitas publik yang kurang terawat—semua menjadi bahan diskusi hangat yang kadang berakhir dengan gelengan kepala pesimis.
Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada nada baru dalam obrolan kami.

Saat aku melangkah keluar dari warkop, mataku tertuju pada aspal jalan yang kini lebih rata, membentang hitam legam menyambut roda-roda kendaraan. Bukan sekadar hitamnya aspal, tapi janji kenyamanan yang mulai terasa. Aku melihat taman-taman kota yang mulai agak ramai, bukan lagi tempat yang sunyi saat malam tiba, melainkan ruang bernapas bagi warga yang lelah. Aku melihat lampu-lampu jalan yang menyala lebih terang, mengusir rasa takut di malam hari.
Perubahan itu tidak datang dengan ledakan meriah atau sorak-sorai gemuruh. Ia datang seperti air hujan yang meresap ke tanah: pelan, sunyi, namun mengubah segalanya.
Aku tahu, di balik setiap meter jalan yang mulus, ada keringat para pekerja dan perencanaan matang dari Pemerintah Barru. Di balik setiap taman yang asri, ada visi untuk membuat kita betah tinggal di negeri sendiri. Mungkin belum sempurna. Mungkin masih ada celah-celah kecil yang perlu diperbaiki. Tapi, sahabatku, mari kita akui satu hal: Mereka sedang bekerja. Mereka sedang berusaha.
Seringkali, kita terlalu sibuk mencari kesalahan hingga lupa memberikan tepuk tangan untuk kemajuan sekecil apa pun. Padahal, dukungan moral dari kita, rakyatnya, adalah bensin terbaik bagi para pemimpin dan aparatur sipil yang bertugas siang malam.
Jadi, hari ini, dari sudut warkop ini, kami ingin mengajak anda semua. Jangan hanya jadi penonton yang kritis, tapi jadilah mitra yang apresiatif. Mari berikan “jempol” kita. Bukan karena kita dipaksa, tapi karena kita melihat usaha nyata. Karena kita percaya bahwa Barru yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama.
Mari dukung langkah-langkah pembangunan Pemerintah Barru. Mari rawat fasilitas yang sudah dibangun. Mari jaga kebersihan taman yang sudah ditata. Karena ketika pemerintah bergerak maju, tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian.
Esok pagi, saat aku kembali menyeruput kopiku, aku harap cangkir itu akan terasa lebih manis. Bukan karena gulanya bertambah, tapi karena hatiku dipenuhi rasa bangga memiliki Barru yang terus berbenah, terus tumbuh, dan terus mencintai warganya. (ABM-oborbarru)

