Makassar, –Malam Itu suasana Warkop Selo di Jalan Toddopuli Raya berubah menjadi lautan emosi. (07/03/25).
Asap kopi mengepul di antara sorak-sorai pengunjung yang sejak awal pertandingan tak henti-hentinya menyemangati PSM Makassar melawan Persebaya.
Harapan membuncah di dada mereka, membayangkan tim kebanggaan akan mengamankan tiga poin di kandang sendiri.

PSM Makassar tampil agresif. Bola dikuasai, serangan demi serangan dilancarkan.
Pada menit-menit terakhir, tekanan semakin kencang.
Para pengunjung di warkop berdiri dari tempat duduknya, beberapa bahkan mengepalkan tangan di udara.
“Ayo Ewakooo!” teriak seorang pria bertopi merah, matanya berbinar penuh harapan.
Namun, nasib berkata lain. Sebuah gol tunggal dari Persebaya menjadi pil pahit yang harus ditelan.
Skor 0-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Sejenak, suasana di warkop sunyi. Kopi yang tadi nikmat kini terasa pahit di lidah.
Tapi bukan Makassar namanya jika semangatnya surut hanya karena satu kekalahan.
Meski kecewa, para pengunjung tetap berdiri tegak, menepuk pundak satu sama lain.
“Biarmi kalah, tetap ji kita dukung!” seru Iksan seorang pelanggan Kopi dengan suara lantang.
Malam di Toddopuli tetap hidup. Gelas kopi masih beradu, obrolan bola kembali menghangat.
Kekalahan ini bukan akhir, tapi pemantik semangat untuk pertandingan berikutnya.
Karena di Makassar, sepak bola bukan sekadar permainanโia adalah harga diri, ia adalah cinta yang tak akan pudar.
(Oleh Redaksi OborMksr)

