Kabar perpindahan Bobby Nasution, menantu mantan Presiden Joko Widodo, dari PDI Perjuangan ke Partai Gerindra mengundang tanya besar tentang etika demokrasi dan sindiran halus.
“Candu kekuasaan” yang seolah tak pernah lekang oleh waktu.
Seperti kopi gula aren yang nikmat dalam keadaan panas maupun dingin, kekuasaan politik pun selalu terasa manis, tak peduli di wadah mana ia disajikan.
Presiden Prabowo Subianto, juga Ketua Umum Gerindra, dengan leluasa memperkenalkan Bobby sebagai kader baru di hadapan Jokowi sendiri, seolah menunjukkan bahwa politik adalah panggung sandiwara di mana hubungan personal dan kepentingan kekuasaan lebih berbicara ketimbang ideologi atau prinsip.
Jokowi, dengan santainya, menyatakan bahwa keputusan Bobby adalah bentuk demokrasi. “Katanya demokrasi. Demokratis,” ujarnya (17/02/25).
Namun, di balik retorika demokrasi yang digaungkan, ada ironi yang tak bisa diabaikan.
Bagaimana mungkin seorang figur yang sebelumnya dipecat dari partai lama bisa begitu mudah diterima di partai baru, bahkan dielu-elukan sebagai kader potensial?
Apakah ini benar-benar tentang demokrasi, atau sekadar permainan kekuasaan yang dibungkus dengan narasi kebebasan memilih?
Pertanyaan lain yang menggelitik;
Mengapa Bobby tidak memilih bergabung dengan Partai Super TBK yang sempat digadang-gadangkan sebagai proyek politik baru Jokowi?
Apakah ini pertanda bahwa Partai Super TBK hanya sekadar wacana, atau justru menunjukkan bahwa kekuatan politik lama masih menjadi magnet utama bagi para elit?
Fenomena satu keluarga dengan afiliasi partai berbeda, seperti yang terjadi dalam keluarga Jokowi, seolah menjadi simbol demokrasi yang diagungkan.
Namun, di balik itu, ada pesan tersirat; politik adalah permainan fleksibel, di mana loyalitas bisa berpindah sesuai dengan angin kekuasaan yang berhembus.
Ini bukan tentang ideologi, melainkan tentang bagaimana bertahan dan terus menikmati “candu kekuasaan” yang tak pernah habis.
Ketum Prabowo, dalam pidato politiknya, dengan bangga menyebut nama-nama kader yang berhasil memenangkan pilkada, termasuk Bobby Nasution.
Ini adalah pertunjukan kekuatan, sekaligus pengingat bahwa politik adalah tentang jaringan, pengaruh, dan siapa yang bisa bertahan di panggung kekuasaan.
Namun, sebagai masyarakat, kita patut bertanya;
Di mana letak etika demokrasi sejati? Apakah demokrasi hanya sekadar tentang kebebasan berpindah partai, ataukah tentang komitmen untuk membawa perubahan nyata bagi rakyat?
Narasi ini, seperti kopi gula aren, mungkin terasa manis di lidah, tetapi kita harus waspada agar tidak kecanduan pada permainan politik yang hanya menguntungkan segelintir elit.
Demokrasi sejati bukanlah tentang siapa yang bisa bertahan di panggung kekuasaan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.
Jika tidak, maka demokrasi hanya akan menjadi candu yang terus kita nikmati, tanpa menyadari bahwa kita sedang dipermainkan oleh permainan politik yang tak berujung.
(Harapan Demokrasi – Oleh Redaksi Obor Bangsa (18/02/25)


