Satu cuplikan film melintas di beranda Netflix pada Rabu (05/03/25) dini hari.
Adegan seorang jurnalis muda berdiri di depan pengadilan kolonial India, suaranya menggema, menantang dogma yang telah berakar dalam.
Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang penulis dengan pena sebagai senjata, tetapi setiap kata yang ia torehkan menggetarkan fondasi kuasa.
Film Maharaj bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin bagi dunia jurnalistik hari ini—sebuah pengingat bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan nyawa bagi perjuangan.
Di tahun 1862, seorang jurnalis bernama Karsandas Mulji berdiri di ambang sejarah, menantang ritual yang disebut “Pelayanan Suci” di mana para gadis dipersembahkan untuk melayani pemimpin spiritual mereka.
Ritual yang dibalut dalam selimut keagungan, namun berisi kebusukan tak terperi.
Tulisan Mulji adalah nyala api yang membakar topeng kemunafikan, membuka tabir kebohongan yang terlalu lama dipuja-puja.
Kata-kata melawan dogma, pena melawan jubah suci, dan sejarah mencatat siapa yang menang,Untuk Mencapai Tuhan, Tak Butuh Perantara!
Lalu, mari kita tengok para jurnalis hari ini.
Berapa banyak yang masih menulis dengan darah dan air mata?
Berapa banyak yang masih berani menantang narasi penguasa?
Ataukah mereka kini hanya menjadi bayang-bayang di balik layar, sibuk mencari kata-kata aman yang tak akan membuat kursinya goyah?
Mereka yang mengaku jurnalis, tetapi tak pernah menuliskan sesuatu yang layak diperjuangkan.
Mereka yang menyebut dirinya pilar demokrasi, tetapi suaranya redup di tengah hiruk-pikuk ketakutan.
Maharaj adalah pengingat bahwa jurnalisme sejati adalah tentang keberanian.
Bahwa untuk mencapai Tuhan, tak butuh perantara yang merenggut martabat manusia.
Bahwa kata-kata lebih tajam dari pedang, lebih berbahaya dari senjata, dan lebih abadi dari nyawa.
Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan warisan yang harus direnungkan, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya jurnalis.
Maka, di zaman ketika kebenaran semakin samar dan keberanian semakin langka, pertanyaannya sederhana,
Apakah pena masih lebih perkasa dari penguasa?
Ataukah ia telah tumpul, sekadar hiasan di meja-meja redaksi yang sunyi?
(Oleh Redaksi OborMksr)



