JAKARTA, OborBangsa.id – Isu “dalang ijazah palsu” yang belakangan ramai menyeret nama Presiden Joko Widodo, rupanya membuka kembali babak ketegangan lama antara dua tokoh besar bangsa: Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Meski tak saling tuding secara terbuka, aroma konfrontasi politik tak bisa ditutupi, bahkan mulai mengarah ke ranah personal dan historis.
Dari Panggung Transisi ke Arena Politik Sengketa
Hubungan Jokowi–SBY awalnya terlihat harmonis. Pada masa transisi 2014, SBY menyambut Jokowi dengan hangat, bahkan mengajaknya berkeliling Istana.
Tapi suasana itu tidak berlangsung lama. Ketika Jokowi mulai menyerang kebijakan subsidi BBM pemerintahan sebelumnya, publik melihat nada sindiran terhadap warisan SBY.
SBY tak tinggal diam. Lewat media sosial dan konferensi pers, ia beberapa kali menyampaikan koreksi terhadap pernyataan-pernyataan Jokowi, seperti saat Jokowi menyebut Indonesia masih punya utang ke IMF—padahal faktanya, utang tersebut sudah lunas sejak 2006.
Fitnah Ijazah & “Partai Biru”: Menyerang Lewat Proxy?
Puncaknya terjadi ketika isu ijazah palsu Jokowi meledak di ruang publik. Dalam situasi yang sarat aroma politis, muncul dugaan bahwa Partai Demokrat sering dijuluki “partai biru”—bermain di balik layar. Meski tidak ada bukti konkret, narasi tersebut menyebar dengan cepat dan tajam.
Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), langsung membantah dan menyebut isu itu sebagai fitnah keji. Bahkan sejumlah kader Demokrat mengancam menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang memfitnah.
Namun yang menarik, serangan itu justru menciptakan persepsi di publik bahwa perlawanan terhadap Jokowi sudah bukan sekadar wacana oposisi, melainkan sudah berubah menjadi “perang urat saraf” antartokoh elite. Banyak pihak menilai, ini adalah perang dingin dua generasi kepemimpinan nasional.
Kaesang: “Keluarga Baik-baik Saja” — Tapi Benarkah?
Di tengah panasnya isu, Ketua Umum PSI yang juga putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, mencoba meredam. Ia menyebut bahwa hubungan antara keluarganya dengan keluarga SBY baik-baik saja. Bahkan ia menyinggung bahwa Gibran sempat menjenguk SBY saat dirawat di RSPAD.
Namun, di balik pernyataan diplomatis itu, publik melihat adanya upaya mengalihkan perhatian dari konflik yang sebenarnya sudah lama membara.
Isu ijazah palsu dinilai bukan hanya serangan terhadap kredibilitas Jokowi secara pribadi, tetapi juga serangan politis menjelang pemilu dan pembentukan poros baru di 2029.
Perspektif Politik: Rekonsiliasi yang Gagal?
Pengamat politik dari Lingkar Demokrasi Nusantara, Rendy Alamsyah, menyebut relasi Jokowi–SBY sebagai “rekonsiliasi yang gagal sejak dini.” Menurutnya, “Apa yang kita lihat hari ini adalah ledakan dari konflik laten yang tidak pernah selesai sejak 2014.
Ketika trust tidak dibangun secara institusional, maka yang muncul adalah saling curiga dan saling sabotase melalui proxy.”
Rendy juga menyoroti posisi Partai Demokrat yang sejak awal tak pernah benar-benar menjadi sekutu strategis Jokowi. “Mereka ingin tetap tampil bersih tapi bermain aman. Di satu sisi ingin tidak terlihat menyerang, di sisi lain ingin Jokowi runtuh oleh isu,” ujarnya.
Pertarungan Dua Era
Jokowi dan SBY mungkin tidak akan pernah saling serang secara terbuka. Tapi publik bisa membaca arah politik yang tengah dimainkan: ini bukan sekadar soal ijazah, tapi tentang legitimasi sejarah, rebutan narasi nasional, dan pertarungan dua poros kekuasaan di Indonesia.
Apakah akan ada rekonsiliasi? Atau justru eskalasi politik makin menjadi? OborBangsa akan terus memantau, karena ini bukan sekadar drama dua tokoh—ini bisa jadi penentu arah politik Indonesia pasca-Jokowi.
Laporan: Chris
Editor: oborBangsa


