Malam itu, di awal Ramadhan yang syahdu, Gowa seakan menyambut takdir baru. (28/02/25).
Ratusan, bahkan ribuan manusia, tumpah ruah di sepanjang Jalan Sultan Hasanuddin.
Mereka bukan sekadar saksi dari momen pergantian kepemimpinan, tetapi juga para pemilik harapan yang lama terpendam.

Tiga puluh lima tahun, Kabupaten Gowa berada dalam genggaman satu klan.
Sejarah panjang yang tertoreh bukan tanpa warna, namun bagi sebagian masyarakat, perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Kini, estafet kepemimpinan telah bergulir ke tangan Hj. ST Husniah Talenrang – H. Darmawangsa Muin. Sebuah peralihan yang digadang-gadang menjadi era baru bagi Gowa.
Malam itu, arak-arakan kendaraan memenuhi jalanan.
“Riuh rendah suara massa berpadu dengan derap kuda yang gagah menyongsong pemimpin baru”.
Di batas kota, Hj. ST Husniah Talenrang turun dari kendaraannya.
Ia menatap barisan rakyat yang menyambutnya dengan spanduk, musik, dan gegap gempita.
Ada haru yang tak dapat disembunyikan dari matanya. Satu tatapan yang penuh makna; ini bukan sekadar perayaan, ini adalah awal dari perjalanan panjang.
Di halaman Ballalompoa Sungguminasa, prosesi penyambutan mencapai puncaknya.
Para ASN, organisasi perangkat daerah, dan kelompok kepemudaan hadir, seolah ingin memastikan bahwa kehadiran pemimpin baru ini benar-benar nyata.
Tapi di balik semarak itu, ada suara-suara lirih yang mengendap di sudut-sudut kota adat ini.
Ada yang menyambut dengan euforia, namun tak sedikit pula yang bertanya,
“Apakah ini benar awal perubahan, atau hanya seremonial yang berulang seperti sebelumnya?”.
Tak bisa dimungkiri, kritik pun berseliweran.
Ada yang menilai ini hanya warisan budaya pencitraan dari penguasa lama.
Momen perhelatan yang lebih menitikberatkan pada kesetiaan simbolik ketimbang aksi nyata.
Sebuah skenario di mana para pejabat berlomba-lomba menunjukkan loyalitas, alih-alih fokus pada kinerja yang sejatinya diharapkan oleh rakyat.
Namun, angin perubahan telah berembus.
“Seberapa besar ia mampu mengubah arah layar kapal bernama Gowa Maju!, hanya waktu yang akan menjawab”
Rakyat telah menaruh harap, dan kini giliran pemimpin baru membuktikan;
“Apakah mereka akan menjadi matahari yang menerangi, atau sekadar bintang yang redup di balik kemegahan seremoni!.”
Matahari baru telah menyingsing.
Kini, saatnya bekerja.
“Sebab harapan yang membuncah, tak selayaknya dibiarkan menguap begitu saja”.
(Oleh Redaksi OborSulsel)

