LOMPO RIAJA, BARRU – Suasana pagi di Dusun Waesai, Kelurahan Lompo Riaja, terasa hangat. Bukan karena kegiatan kepolisian atau razia, tetapi karena kehadiran Bhabinkamtibmas Aiptu M. Arsal yang memilih duduk bersama warga, ngopi, dan berbincang santai.
Di tengah musim kemarau yang mulai terasa, M. Arsal turun langsung menemui warga. Tidak ada sekat antara polisi dan masyarakat. Obrolan berlangsung santai, namun sejumlah persoalan penting ikut dibahas, mulai dari ancaman kebakaran hingga kondisi sumber air yang semakin kritis.
Belajar dari Kebakaran di Bunne

Dalam pertemuan tersebut, M. Arsal mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang kering.
Ia menyinggung peristiwa kebakaran yang baru-baru ini terjadi di Dusun Bunne, Desa Kading. Kejadian itu menjadi pengingat bahwa api dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi lingkungan kering.
«“Kita harus belajar dari kejadian di Bunne. Jangan sampai Waesai mengalami hal serupa. Kewaspadaan adalah kunci,” tegas M. Arsal di hadapan warga dan tokoh masyarakat.»
Ia mengajak warga untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang dianggap membahayakan.
Sumber Air Jadi Perhatian
Selain persoalan kebakaran, pembicaraan pagi itu juga mengarah pada kondisi Sumber Air Waesai yang mulai kritis.
Sumber mata air tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat. Selain dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebun kacang warga, aliran air juga menjadi salah satu sumber suplai bagi kebutuhan air bersih masyarakat melalui PDAM Barru dan PDAM Ralla.
Kondisi tersebut membuat pembagian air menjadi persoalan yang perlu disikapi bersama.
M. Arsal pun mengambil posisi sebagai penghubung antara kepentingan petani dan kebutuhan air bersih masyarakat. Ia mengimbau warga yang sawah dan kebunnya telah mendapatkan cukup air agar segera menutup aliran.
«“Sumber air ini nyawa bagi banyak orang, termasuk warga kota yang bergantung pada PDAM. Mari kita bagi secara adil. Setelah sawah cukup air, tolong tutupki keranta agar aliran ke PDAM tetap lancar,” ujarnya.»
Menurutnya, persoalan air membutuhkan kesadaran bersama agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kebutuhan masyarakat terhadap air bersih.
Polisi yang Hadir di Tengah Warga
Usai pembicaraan berlangsung, suasana kembali cair. Ketua RT M. Rusdan bersama sejumlah tokoh masyarakat tampak menyambut baik kehadiran Bhabinkamtibmas tersebut.
Bagi warga, kedatangan M. Arsal bukan sekadar menjalankan tugas. Kehadirannya dinilai menunjukkan kedekatan polisi dengan masyarakat, khususnya dalam menghadapi persoalan yang dirasakan langsung oleh warga.
“Pak Bhabin ini murah senyum dan selalu dekat dengan warga. Kami anggap beliau sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada rasa takut atau canggung saat bertemu polisi,” ungkap salah seorang warga Waesai.
Pertemuan sederhana itu pun ditutup dengan jabat tangan dan senyum.
Di Waesai, secangkir kopi menjadi ruang perjumpaan. Polisi hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga mendengar, mengingatkan, dan ikut mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat di tengah musim kemarau. (ABM–oborbarru)

