Rokok dan BBM. Dua komoditas yang seharusnya berada di jalur sah, namun di tangan para pemain gelap, mereka berubah menjadi celah menggiurkan.
Sebuah bisnis yang berjalan di pinggir hukum, di mana kepentingan ekonomi berbenturan dengan aturan negara.
Di sudut-sudut pasar, warung kecil hingga lapak-lapak remang di perbatasan kota, rokok ilegal menemukan jalannya.
Dibeli dengan harga yang jauh lebih murah, masyarakat seakan mendapat kelegaan di tengah kenaikan harga akibat lonjakan cukai.
Bagi mereka, tak penting dari mana asalnya, yang terpenting adalah asap masih bisa mengepul di sela bibir tanpa menguras isi kantong.
Di sisi lain, para penyelundup dan produsen ilegal menikmati manisnya keuntungan, merangkai jejaring distribusi yang licin seperti asap yang tak berjejak.
Sementara itu, di dunia yang lebih luas dan berbobot, BBM bersubsidi memainkan perannya sendiri dalam panggung manipulasi.
Seharusnya, BBM ini menjadi bahan bakar rakyat, membantu kendaraan umum, nelayan, hingga petani kecil. Tapi hukum ekonomi seringkali tak peduli pada aturan.
Harga BBM industri yang melambung tinggi menggoda para pemilik modal untuk mencari celah.
Truk-truk tangki menyelinap ke jalur-jalur gelap dan kendaraan modifikasi, menjual BBM bersubsidi ke industri dengan harga yang tetap lebih murah dari tarif resmi.
Keuntungan pun berlipat, sementara negara kehilangan triliunan rupiah setiap tahunnya.
Mereka yang bermain di sektor ini tahu betul risikonya.
Tapi, seperti candu kopi khas Enrekang yang sulit dilepaskan, keuntungan besar menutup mata terhadap konsekuensi.
Selama ada pasar, selama ada celah, bisnis ini akan terus berdenyut di lorong-lorong sunyi ekonomi ilegal.
Hukum mungkin sesekali menjangkau mereka ada razia, ada penggerebekan, ada berita tentang mafia BBM yang ditangkap atau pabrik rokok ilegal yang digulung.
Tapi seperti gelombang yang kembali menghempas pantai meskipun tedapat PAGAR LAUT, bisnis ini tak benar-benar mati.
Ia hanya berganti wajah, berpindah tangan, merancang strategi baru untuk terus mengalirkan keuntungan dalam bayang-bayang kegelapan.
Dan di ujung cerita, yang dirugikan tetaplah negara, tetaplah rakyat kecil.
Tapi, seperti asap rokok yang mengepul ke udara dan bahan bakar yang terbakar di mesin, jejaknya tak selalu mudah ditangkap.
Mereka yang di atas mungkin hanya melihat angka-angka statistik, tapi di bawah, ini adalah realitas yang terus berlangsung.
Oleh : Arfandi Pallallo pegiat Literasi Gowa 21/02/25


