Oleh: Sultan (Pedagang Bawang Kontemporer)
Hossein Askari, profesor dari George Washington University, pernah menerbitkan riset yang mengguncang dunia Islam.
Ia menyusun Islamicity Index, indikator untuk menilai seberapa “Islami” suatu negara berdasarkan nilai-nilai Islam: keadilan ekonomi, tata hukum, hak asasi manusia, dan hubungan internasional.
Bukan Arab Saudi, Iran, atau Indonesia yang menempati peringkat atas, melainkan Irlandia, Belanda, Selandia Baru, dan Denmark negara-negara non-Muslim yang justru lebih Islami secara praksis.
Askari menyentil kita semua: banyak negara mayoritas Muslim justru gagal mewujudkan nilai-nilai Islam. Korupsi merajalela, hukum tumpul, ketimpangan mencolok, dan agama dipakai bukan sebagai landasan etika, tapi alat legitimasi kekuasaan.
Ia berkata tegas, “Mereka menggunakan Islam untuk mengendalikan negara.” Pernyataan itu bukan tuduhan kosong, tetapi cermin tajam yang menuntut refleksi mendalam: mengapa umat Islam gagal menghadirkan politik yang Islami?
Sosiolog dan budayawan Kuntowijoyo menyumbang jawabannya. Dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam, ia mengungkap dua luka lama umat: relasi patron-klien antara elite agama dan massa, serta rendahnya literasi kritis umat yang membuat simbol lebih digandrungi ketimbang substansi.
Politik menjadi ritual simbolik. Elite agama cukup hadir, disalami, difoto, dan suara pun mengalir. Partai tak perlu menjual visi, cukup menjual tokoh.
Pemilu 2019 menjadi panggung besar dari drama ini. Prabowo merangkul ulama-ulama pro-212 untuk menggiring semangat perubahan, sementara Jokowi merangkul ulama-ulama tradisional untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan.
Dua narasi berbeda, tapi taktiknya sama: menunggangi pengaruh ulama untuk memanen suara. Simbol digunakan sebagai jembatan instan menuju kekuasaan. Relasi spiritual dikomodifikasi.
Kuntowijoyo mengingatkan kita bahwa selama elite agama tidak mampu melepaskan diri dari hubungan patron-klien, maka politik rasional yang adil akan selalu dikorbankan demi kemenangan jangka pendek.
Dan ketika umat hanya patuh secara simbolik, maka mereka mudah diarahkan bahkan oleh narasi yang ditanam dari luar.
Inilah inception politik: kesadaran palsu yang dikira perjuangan. Kita tidak sedang membangun visi bersama, kita sedang berjalan dalam mimpi yang disetir kepentingan.
Ahmet Kuru menyoroti sisi lain dari stagnasi politik dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Negara-negara rente yang hidup dari kekayaan alam seperti minyak tumbuh tanpa akuntabilitas terhadap rakyat.
Rezim tak bergantung pada pajak, sehingga tak merasa perlu mempertanggungjawabkan kekuasaan. Rakyat pun bergantung pada penguasa, bukan sebaliknya.
Kekuasaan absolut lahir dari ketergantungan absolut, dan seperti kata Lord Acton, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
Kita bisa melihatnya dalam sejarah Mesir, Irak, Iran, Suriah, Yaman, Lebanon. Kudeta, perang saudara, dan kekacauan menjadi pola berulang.
Oposisi ditekan, kompromi ditafsirkan sebagai kelemahan. Jalan tengah hilang, dan umat berada di antara dua kutub ekstrem: tunduk atau memberontak.
Namun, di tengah kerapuhan itu, Kuntowijoyo menyelipkan satu cahaya: umat memerlukan kesadaran politik yang religius tapi rasional.
Kita tidak boleh dikendalikan oleh kekaguman atau kebencian. Sebab kekaguman membutakan kita dari kesalahan, dan kebencian membutakan kita dari kebenaran.
Umat harus mulai berpihak pada nilai, bukan pada tokoh. Tokoh boleh datang dan pergi, bisa setia atau berubah arah. Tapi nilai keadilan, kejujuran, akhlak, kesetaraan adalah kompas sejati.
Maka jika suatu saat tokoh yang kita agungkan menyeleweng, hanya komitmen pada nilai yang bisa menyelamatkan kita dari ranjau politik.
Inilah realitas kita: umat yang terjaga, tapi berjalan di atas ranjau. Kita sadar, tapi disetir. Kita vokal, tapi mudah dibelokkan.
Jalan satu-satunya adalah membangkitkan kesadaran yang bukan ditanam oleh siapa-siapa, tapi tumbuh dari refleksi dan perjuangan bersama.
Saatnya umat Islam tidak lagi menjadi pasar politik. Tapi menjadi pelaku, perumus, dan penjaga arah politik yang memanusiakan, membebaskan, dan memuliakan.
Inilah saatnya bangun bukan sekadar dari tidur, tapi dari mimpi yang bukan milik kita.


