“Sebuah Satire Pilu tentang Kota Makassar yang Tenggelam dalam Tinja dan Janji Manis”
Ah.., IPAL Losari! Kau masih berdiri gagah di bibir pantai, seperti monumen abadi atas kegagalan sanitasi.
Lima tahun berlalu sejak kau diresmikan dengan pompom dan pita, tapi apa kabarmu hari ini? Konon, kau harusnya jadi solusi, tapi air tanah Makassar malah makin bernuansa kopi susu campuran eksklusif antara limbah dan harapan warga yang terkikis.
Makassar Darurat Tinja, tapi jangan khawatir! Pemerintah pasti sedang menyiapkan tweet dukungan atau press release berbunga-bunga.
Sementara itu, warga boleh berkreasi lewat sumur bor jadi jus tinja, sungai-sungai berubah jadi kolam renang alami (dengan bonus bakteri E.coli gratis).
Tutupan ruang? Ah…, itu konsep kuno. Lebih baik biarkan air limbah dan sampah mengalir romantis ke laut, seperti cinta tak berbalas yang tak pernah selesai.
Laut Losari pun sudah paham, ia bukan lagi tujuan wisata, melainkan museum limbah terbuka.
Pengunjung tak perlu membayar tiket cukup tarik napas dalam-dalam, dan rasakan aroma khas kemajuan yang tertunda.
Ironi Terbesar memang, kota ini punya julukan Daeng, tapi sanitasi justru masih dae-nganga.
Sambil menunggu IPAL Losari bangun dari tidur panjangnya, atau menunggu warga Makassar resmi jadi The Walking Dead versi keracunan tinja.)
Catatan kaki satire, kami di Forum Komunitas Hijau tetap belajar dan melek data yang realistis dengan fakta.
- Data Bappenas 2022: 70% air tanah di Makassar terkontaminasi tinja.
- IPAL Losari, diresmikan 2019, tapi cakupan layanannya masih seumur jagung.
- Solusi nyata?
Mungkin perlu tamparan realitas atau setidaknya satu dua WC komunal yang benar-benar berfungsi.
Oleh : Achmad Yusran







