GOWA- Jamaah An Nadzir Gowa di kelurahan Romanglompoa kecamatan Bontomarannu kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan yang lazim dikenal dengan jamaah Islam berciri pakaian serba hitam dengan rambut panjang sebahu diwarnai pirang, dalam menikahkan jama’ahnya bagi yang telah cukup umur tampak berbeda dengan prosesi pernikahan pada umumnya. Dan media ini sebelumnya pernah memberitakan bagaimana prosesi pernikahan perorangan yang islami versi jama’ah tersebut.

Namun kali ini, media ini kembali menurunkan laporannya tentang bagaimana pernikahan islami jamaah pengikut Kiyai Samsuri Majid yang mereka kerap menyebut imamnya sebagai Syeich Muhammad Al Mahdi Abdullah itu yang jika mempelainya lebih dari satu atau dengan kata lain pernikahan massal.
Belum lama ini pengurus An Nadzir Gowa menyelenggarakan walimah pernikahan massal tiga pasang jamaahnya di mesjid Baitul Muqaddis. Ketiga pasang mempelai itu diketahui masing-masing bernama Muhammad Akbar bin Mawardi berpasangan dengan Ummu Salmiyah binti Muhammad Samiruddin Pademmui, Abdul Ilham bin Mawardi berpasangan dengan Fatima Tussahra binti Ukasyah, dan Fauzan bin Abbas berpasangan dengan Ulan binti Muslimin.
Dengan disaksikan oleh petugas pencatat nikah dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat bersama jama’ah dan keluarga mempelai, pengucapan akad nikah dipandu oleh masing-masing ayahanda dari mempelai wanita secara bergantian dengan bimbingan pimpinan An Nadzir Gowa, dimana masing-masing mempelai pria membaca beberapa ayat al qur’an lebih dahulu sebelum mengucapkan akad nikah.
Usai mengucapkan akad nikah, mempelai pria diarahkan untuk mendatangi masing-masing isterinya yang menunggu di tempat lain di dalam mesjid itu juga untuk melakukan ijab qabul dibawah bimbingan pimpinan An Nadzir Gowa. Jadi pasangan mempelai tidak duduk bersama saat pelaksanaan akad nikah. Dan nanti setelah nikah dinyatakan sah, barulah kemudian mempelai pria mendatangi isterinya dan untuk pertama kalinya menyentuh fisik istrinya itu pada prosesi ijab qabul itu.
Saat duduk bersila berhadapan, suami isteri itu kemudian saling berpegangan tangan (baca, berjabat tangan, red) sebagai yang pertama kalinya bersentuhan fisik, terjadi dialog antar suami isteri dibawah bimbingan pimpinan An Nadzir.
Suami : “Assalamu alaika yaa baaburrahman”
Isteri : “Wa alaikassalaam yaa baaburrahiim yaa amiirul mukminiin”
Suami : “Asyhadu allah ilaaha illaallaah wahdahu laa syariikalah”
Isteri : “Wa anna Muhammadan abduhuu wa rasuulahu.
Suami-isteri : “Allahummashalli alaa Muhammad wa alaa aalihii Muhammad”.
Selanjutnya, secara bergantian masing-masing sang suami mengucapkan kalimat ajakan. (Iskandar-oborbangsa)


