MAKASSAR — Pasar Sentral. Dulu, tempat ini bukan cuma sekadar pasar. Ia adalah urat nadi perdagangan Kota Daeng. Tempat segala rupa orang datang mencari penghidupan.
Tapi hari ini Senin (01/06/25) suasana di lorong-lorong lods itu mulai terasa berat.
Bukan karena sepi pembeli, tapi karena ancaman segel dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Makassar yang mengintai di ambang pintu.
Sebanyak 114 lods atau lapak pedagang di Pasar Sentral tercatat menunggak pembayaran sewa sejak 2021.
Angkanya tidak main-main: mencapai Rp136 juta. Jumlah itu setara harga satu unit rumah tipe 36 di pinggiran kota.
“Ini perintah Direksi langsung. Jadi kami akan tertibkan semua lods yang tidak pernah bayar.’
“Sudah jelas-jelas melanggar aturan,” ujar Muh. Fajaruddin, Kepala Unit Pasar Sentral yang lebih dikenal dengan sapaan Fajar, saat ditemui di sela kegiatan penyerahan surat peringatan.
Pihak Perumda Pasar sejauh ini baru mengirimkan Surat Peringatan (SP) tahap pertama kepada 56 pedagang.
Sisanya akan menyusul minggu depan. Jika dalam tiga kali peringatan tetap tidak ada respons, maka penyegelan jadi pilihan terakhir.
“Kita bukan mau cari-cari kesalahan. Tapi ini soal aset daerah. Kalau tidak dimanfaatkan dengan baik, ya mubasir.”
“Padahal banyak juga pedagang lain yang mau tempati tapi tidak kebagian,” tambah Fajar, nada suaranya datar tapi tegas.
Di lapangan, petugas dari berbagai bagian ikut terlibat dalam operasi ini.
Mulai dari Kasubag Sewa Tempat Muh. Ilham, Kasubag Kerjasama A. Malik H., hingga Kasubag Pembinaan Pedagang Andi Fridayanti.
Tim Sentra Pengawasan Internal (SPI) yang diwakili Rahmawati juga ikut memantau jalannya proses.
Wajah-wajah pedagang yang menerima SP tampak muram. Beberapa mencoba bernegosiasi. Sebagian lainnya memilih diam.
Bagi mereka, bukan niat tak mau bayar.
Tapi kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih usai pandemi, membuat mereka terseok menjaga putaran usaha.
“Bukanmi kami tidak mau bayar, Pak. Tapi pi kita mau ambil dari mana?”
“Harga barang naik, pembeli sepi. Kita pi juga orang kecil,” celetuk salah seorang pedagang pakaian yang enggan disebut namanya.
Pasar Sentral kini seperti panggung tarik menarik antara penertiban dan keberlangsungan hidup.
Di satu sisi, Perumda Pasar wajib mengamankan aset daerah. Di sisi lain, para pedagang butuh napas untuk bertahan.
Apakah penyegelan akan menjadi jalan keluar?
Ataukah ini justru akan membuka luka baru bagi denyut ekonomi mikro di jantung Kota Makassar?
Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, 114 lods kini berdiri di ujung tanduk. Dan lorong-lorong Pasar Sentral menunggu babak berikutnya.
Laporan: Tim oborBangsa
Editor: Pen


