MAKASSAR– Kota Kolaka tampak kelabu saat tim Bareskrim Mabes Polri menggeledah satu gudang tersembunyi di pinggiran kota.
Deretan tangki raksasa berdiri kokoh, menyimpan solar bersubsidi yang seharusnya menjadi hak nelayan, petani kecil dan angkutan umum.
Namun, di tangan para pemain besar, BBM itu berubah menjadi komoditas haram, dijual dengan harga industri, meraup untung hingga miliaran rupiah.

Pengungkapan ini menjadi babak baru dalam saga panjang penyalahgunaan BBM bersubsidi di Sulawesi.
Tetapi jika Kolaka menjadi sorotan, maka Sulawesi Selatan adalah lorong gelap yang jarang tersentuh.
Di sinilah nama-nama seperti PT WPE, PT Zoel Global Mandiri, PT Ronal Jaya Energi, PT Sri Karya Sukses dan sederet perusahaan lainnya mencuat.
Saat ini didesak oleh gelombang aksi mahasiswa, perusahaan-perusahaan ini disebut-sebut memiliki pemilik yang tak tersentuh: oknum berseragam, anggota TNI yang bersembunyi di balik struktur korporasi.
Ingatan kita pun melayang pada PT Bulukumba Berkah Mandiri. Dulu berjaya, kini terdengar samar telah berganti kulit.
Sidrap pun tak luput dari pusaran ini. PT Srikarya Sukses (SKS), yang diduga dimiliki oleh seorang oknum polisi inisial (FB) , dan PT Ronald Karya Energy milik Inisal DS (DAS) yang selalu luput dari target hukum.
Kasus yang serupa menimpa PT Trio Amanah Energy, yang konon dikendalikan oleh seorang anggota Densus Polda Sulsel.
Hingga pada kabar ini juga menyeret oknum polisi yang juga diduga menjalankan bisnis skine care ber Mercury.
Kita kembali ke BBM Solar, modusnya selalu sama; BBM bersubsidi dialihkan ke tangan industri.
Truk-truk tangki berlabel “bersubsidi” menghilang di persimpangan malam, berganti plat, berganti tuan. Ketika akhirnya tersandung hukum, pemiliknya seakan hantuโada, tapi tak tersentuh.
Kasus di Kolaka membuktikan bahwa pola ini bukan sekadar teori konspirasi. Rp105 miliar menguap begitu saja, berpindah ke kantong-kantong tak kasat mata.
Jika di Kolaka mafia solar bisa dibongkar, mengapa Sulawesi Selatan tetap gelap?
Adakah tangan yang lebih kuat menutup celah hukum di sini?
Kita masih ingat bagaimana gerakan mahasiswa pernah mengguncang tembok-tembok kekuasaan.
Mereka yang berani bersuara kini berhadapan dengan tekanan yang lebih besar.
Tetapi sejarah membuktikan, setiap kejahatan memiliki batas waktu.
Mafia solar boleh saja merasa aman dalam lindungan seragam, tetapi angin perubahan sedang berhembus.
Dan ketika saatnya tiba, bahkan seragam pun tak lagi bisa menjadi tameng, kita nantikan itu.
Bersambung…
(Tim Redaksi OborSulsel)

