JAKARTA– PT Pertamina (Persero) tengah diterpa gelombang krisis kepercayaan setelah kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang mencuat.
Di tengah badai skandal yang menyeret sejumlah pejabatnya, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengambil langkah tak lazim; membagikan nomor ponsel pribadinya ke publik.
“Selain call center 135, saya juga memberikan nomor khusus saya, yaitu 081417081945,” ujar Simon dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3).
Langkah ini diklaim sebagai bentuk transparansi dan keterbukaan Pertamina kepada masyarakat.

Namun, alih-alih meredakan keresahan, langkah tersebut justru memicu pertanyaan;
Apakah ini cara baru untuk meredam kemarahan publik?
Atau sekadar taktik komunikasi krisis yang panik?
BOROK TATA KELOLA& PEMAINAN KOTOR
Langkah Simon muncul di tengah penetapan enam pejabat Pertamina sebagai tersangka dalam dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang.
Salah satu tersangka, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, diduga terlibat dalam permainan tender impor BBM yang telah berlangsung sejak 2018 hingga 2023.
Kejaksaan Agung mengungkap skema korupsi yang diduga melibatkan pengaturan tender, manipulasi spesifikasi minyak impor, hingga pengkondisian rapat Optimasi Hilir (OH) untuk mengurangi produksi kilang dalam negeri.
Akibatnya, produksi minyak bumi domestik tak terserap sepenuhnya, memberi jalan mulus bagi impor BBM. Bahkan, dugaan permainan harga membuat RON 90 (Pertalite) dibeli dengan harga RON 92 (Pertamax), menciptakan potensi kerugian negara dalam jumlah yang fantastis.
JANJI PERBAIKAN DI TENGAH KEMARAHAN PUBLIK
Dalam konferensi pers yang penuh nuansa apologetik, Simon mengakui bobroknya tata kelola di tubuh perusahaan energi pelat merah itu.
“Saya, Simon Aloysius Mantiri, sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir ini,” ucapnya.
Ia mengklaim bahwa Pertamina, yang telah berdiri selama 67 tahun, akan terus berupaya membenahi diri.
Simon juga menekankan bahwa mayoritas pegawai Pertamina tetap memiliki integritas dan berjiwa Merah Putih.
“Kami bersama insan-insan Pertamina akan terus berkomitmen untuk membenahi diri kami. Kami telah membentuk Tim Crisis Center untuk mengevaluasi keseluruhan proses bisnis, terutama dari aspek operasional,” kata dia.
DUKUNGAN HUKUM & JALAN TERJAL REFORMASI
Simon juga menyatakan dukungannya terhadap upaya Kejaksaan Agung dalam mengusut tuntas skandal yang mencoreng kredibilitas Pertamina.
Ia berjanji perusahaan akan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).
Namun, janji reformasi ini tentu bukan hal baru. Sejarah panjang BUMN ini kerap diwarnai kasus serupa, dan publik telah berkali-kali disuguhi janji perbaikan tanpa hasil nyata.
Di tengah polemik yang semakin membesar, publik kini menanti apakah langkah Simon berbagi nomor pribadi ini sekadar gimmick atau benar-benar menjadi awal reformasi besar di tubuh Pertamina.
Satu hal yang pasti; kepercayaan publik terhadap Pertamina berada di ujung tanduk, dan pemulihannya bukan sekadar urusan komunikasi, melainkan keberanian untuk membersihkan sistem dari hulu hingga hilir.
(Laporan Redaksi OborJkt)


