BULUKUMBA,– Wacana relokasi Pasar Cekkeng Kasuara ke Pasar Sentral kembali menuai gelombang penolakan dari warga dan pedagang lokal.
Mereka menuding kebijakan ini dilakukan secara sepihak, minim partisipasi publik, dan berpotensi memiskinkan rakyat kecil yang bergantung hidup dari denyut ekonomi pasar tradisional.

Sejak pengumuman relokasi, kondisi Pasar Cekkeng makin sepi. Pedagang kehilangan pembeli, pengunjung enggan datang, dan ekonomi warga sekitar mulai lumpuh perlahan.
Padahal, pasar tersebut telah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat selama puluhan tahun.
“Ini bukan sekadar pasar. Ini jantung ekonomi rakyat kecil yang telah berdetak puluhan tahun. Sekarang, kami dipaksa menyingkir tanpa kejelasan,” ujar D, salah satu warga Lingkungan Kasuara, Jumat (4/7/2025).
Sebelumnya, kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bulukumba Alfian Mallihungan, menyebut bahwa relokasi dilakukan sebagai bagian dari penataan wilayah kota dan peningkatan efisiensi pelayanan pasar rakyat.
Ia juga menyebutkan bahwa Pasar Cekkeng dinilai tidak lagi representatif dari sisi fasilitas, tata letak, hingga keamanan lingkungan.
“Pasar Sentral memiliki fasilitas yang lebih layak dan terintegrasi, sehingga bisa memberikan kenyamanan lebih baik untuk pedagang maupun pengunjung,” jelasnya.
Pemerintah juga mengklaim bahwa relokasi ini sejalan dengan rencana jangka panjang untuk mengurai kemacetan, memperluas ruang hijau, dan memusatkan aktivitas perdagangan di satu titik agar lebih tertata.
Namun, narasi pemerintah ini tidak serta merta menenangkan warga. Menurut mereka, fasilitas yang lebih baik tidak berarti apa-apa jika pedagang kehilangan pelanggan dan tidak mampu bertahan secara ekonomi di lokasi baru.
“Kalau sekadar bangunan bagus tapi kami tidak bisa jualan, buat apa? Yang kami butuhkan bukan hanya kios, tapi juga pelanggan, lalu lintas ekonomi, dan keberlangsungan usaha,” tegas R, pedagang lama Pasar Cekkeng.
Warga juga mempertanyakan transparansi kebijakan ini. Tidak ada kajian sosial yang diumumkan ke publik, tidak ada skema pendampingan bagi pedagang terdampak, dan belum ada kejelasan bagaimana sistem penempatan di lokasi baru akan dilakukan.
“Ini kebijakan top-down yang tidak memikirkan dampak sosial. Kami tidak pernah diajak bicara, tiba-tiba disuruh angkat kaki,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Sejumlah warga bahkan mencurigai relokasi ini didorong oleh kepentingan elite dan pengusaha yang mengincar lahan strategis Pasar Cekkeng.
Ada dugaan bahwa kawasan tersebut akan dialihfungsikan untuk proyek-proyek komersial tertentu.
Sebagai bentuk perlawanan, warga mendesak pemerintah untuk menghentikan seluruh proses relokasi sampai ada dialog terbuka dan kajian sosial ekonomi yang transparan.
Jika tuntutan mereka tak dipenuhi, aksi massa besar-besaran akan dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang mereka anggap menindas.
“Kalau suara rakyat tidak lagi dianggap penting, maka kami akan turun ke jalan. Ini bukan hanya soal pasar, ini soal keadilan,” tegas salah satu koordinator pedagang.
Laporan: Pen
Editor: OborBulumumba









